<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-30383559</id><updated>2012-02-16T12:23:09.630-08:00</updated><title type='text'>Jatropha Expedition 2006</title><subtitle type='html'>Ekspedisi uji coba secara empiris dan ilmiah kelayakan minyak jarak pagar (Jatropha curcas) murni dari Atambua, Timor ke Jakarta, 12 hingga 20 Juli 2006.
NATIONAL GEOGRAPHIC INDONESIA-BIOTECHNOLOGY RESEARCH CENTER ITB- BIOCHEM PRIMA INTERNATIONAL</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>TB</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>46</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30383559.post-115805336036357452</id><published>2006-09-12T02:25:00.000-07:00</published><updated>2006-09-12T02:29:20.376-07:00</updated><title type='text'>Wejangan Kepala Negara</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;strong&gt;ARAHAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;strong&gt;KEPADA &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;strong&gt;PARA PESERTA EKSPEDISI JATROPHA&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;HALAMAN DEPAN BINA GRAHA, 20 JULI 2006&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,Selamat sore,Salam sejahtera untuk kita semua,Para Menteri yang saya hormati, Pimpinan National Geographic Indonesia dan staf, Pimpinan Lembaga Pemerintah non Departemen, para pengusaha, Pimpinan Ekspedisi Jatropha, NGI Indonesia. Saudara-saudara yang telah melaksanakan uji coba, lintas daerah bertemu dengan saudara-saudara kita dalam bentangan rute yang begitu panjang, dalam waktu hampir 10 hari. Hadirin sekalian yang saya hormati,Alhamdulillah, sore hari ini kita dapat bertemu di depan Bina Graha ini untuk bersama-sama membuktikan bahwa pengembangan green energy, pengembangan bioenergi sebagai energi alternatif di negeri kita ini sangat mungkin untuk kita lakukan. Atas nama pemerintah, saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang sudah memotong kurva, melakukan kampanye, memberikan harapan dan keyakinan kepada rakyat kita bahwa pengembangan jarak pagar untuk energi yang aman, yang bertenaga kuat dan dapat segera dipakai dalam transportasi kita betul-betul dapat untuk dibuktikan. Sekali lagi, terimalah ucapan selamat, terima kasih dan penghargaan dari saya.Saudara-saudara,Kalau kita menyimak perkembangan energi pada tingkat global, kita harus mengubah paradigma, cara berpikir dan mindset sejak sekarang, agar kita tidak menjadi dinosaurus. Kalau kita mengharapkan kembali harga minyak bumi, crude di dunia ini turun di bawah 40 dolar, apalagi 20 dolar, berarti kita hidup di alam mimpi. Karena pergerakan harga minyak di dunia ini dalam perkembangan ekonomi global amat ditentukan akhirnya pada supply and demand pada tingkat global. Negara-negara besar, seperti China, India, Amerika Serikat, bahkan Indonesia setiap tahun mengkonsumsi bahan bakar minyak secara meningkat pula. Sedangkan deposit dari minyak bumi, gas juga susut, belum kalau ada faktor-faktor lain. Faktor geopolitik sebagaimana yang terjadi di Timur Tengah sekarang ini ataupun di Nigeria ataupun tempat-tempat yang lain yang dari hubungan supply dan demand mendorong harga minyak bumi itu tinggi, tentu menjadi lebih tinggi bahkan akan volatile, tidak stabil dan akan berfluktuasi dari masa ke masa. Satu fenomena dan realitas baru ini mengharuskan kita semua, mulai dari cendekiawan, peneliti, teknolog, industriawan, businessman, pemerintah sebagai policy maker, semua untuk betul-betul menggeser paradigma dan mindset. Dari yang hanya menggantungkan fossil based fuel untuk menuju ke energi alternatif sehingga akan makin rasional penggunaan, baik yang sifatnya fossil based fuel dengan non fossil based fuel ataupun yang renewable dengan unrenewable. Apa yang saudara lakukan menjadi titik penting dalam upaya kita untuk mengembangkan green energy. Kurang lebih dua minggu yang lalu, saya memimpin pertemuan di Losari, Semarang selama 2 hari. Saya mengundang banyak kalangan untuk memikirkan bagaimana kita mengembangkan green energy ke depan ini. Yang pertama, kembali kepada kebijakan energi. Abad 21 yang kita kembangkan di negeri ini, bahwa sepantasnya kita mengurangi ketergantungan pada BBM yang berasal dari minyak menjadi kurang dari itu menggunakan gas, menggunakan batubara, menggunakan biofuel dan energi yang terbarukan lainnya. Khusus biofuel, bioenergi, ada sejumlah peluang besar di negeri ini. Tanah tersedia, budaya bertani jarak, singkong, tebu dan kelapa sawit kita miliki. Tenaga kerja ada, machinery bisa kita bangun, infrastruktur sebagian sudah ada. Yang belum bisa kita bangun pasar atau market, baik yang dikonsumsi oleh Pertamina kita, domestic market ada, apalagi kalau untuk pertimbangan ekonomi sebagian bisa kita ekspor. Ini merupakan peluang besar yang tidak boleh kita sia-siakan. Oleh karena itu, sekarang dan ke depan ini di samping yang sudah berkembang sekarang, Pemerintah bersama-sama dengan semua kalangan ingin mengembangkan green energy secara besar-besaran. Satu tujuannya memang untuk kepentingan security of energy supply yang saya jelaskan tadi.Yang kedua, untuk menciptakan lapangan kerja yang lebih besar, karena pertanian, perkebunan singkong, tebu, kelapa sawit dan jarak ini tersebar di seluruh tanah air. Harapan kita, lapangan kerja di daerah pertanian, perdesaan, daerah tertinggal juga dapat diberikan. Otomatis kemiskinan, harapan kita akan berkurang dan yang lebih penting lagi ekonomi lokal bergerak, ekonomi nasional bergerak dan kita punya penghematan devisa untuk mengimpor BBM dan bisa kita gunakan untuk yang lain.Itulah big picture, gambar besar yang sedang kita bangun dan Insya Allah akan kita kembangkan di waktu yang akan datang. Atas semuanya itu, yang saudara lakukan saya katakan memotong kurva karena biasanya kita kembangkan, maju lagi, uji lapangan dan seterusnya. Oleh karena itu, saya berterima kasih dan dengan inisiatif, prakarsa dari National Geographic Indonesia dan teman-teman yang lain, mudah-mudah langkah kita untuk mengembangkan green energy ini tinggal betul-betul bisa dicapai untuk tenaga kerja rakyat kita, pengurangan kemiskinan rakyat kita, peningkatan kesejahteraan rakyat kita, penciptaan lingkungan yang bersih di negeri ini dan kemudian untuk keamanan energi secara nasional dan tentu akan menyumbangkan keamanan energi secara global.Itulah yang dapat saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Bagi para pengusaha yang sudah masuk di bidang green energy, teruslah, mari kita lebih kembangkan lagi. Pemerintah akan memberikan fasilitas, payung kebijakan, insentif-insentif tertentu nanti yang sedang kita pikirkan, agar semua berkembang dan di atas segalanya adalah job creation, poverty reduction untuk rakyat kita di seluruh Indonesia.Demikianlah yang dapat saya sampaikan.Terima kasih,Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Sumber: Biro Pers dan MediaRumah Tangga Kepresidenan&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30383559-115805336036357452?l=jatropha-expedition.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/feeds/115805336036357452/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30383559&amp;postID=115805336036357452' title='324 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115805336036357452'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115805336036357452'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/2006/09/wejangan-kepala-negara.html' title='Wejangan Kepala Negara'/><author><name>penulis lepas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06858550528843840834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>324</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30383559.post-115735677835906749</id><published>2006-09-04T00:59:00.000-07:00</published><updated>2006-09-04T00:59:38.456-07:00</updated><title type='text'>Jatropha Expedition 2006</title><content type='html'>&lt;a href="http://jatropha-expedition.blogspot.com/"&gt;Jatropha Expedition 2006&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30383559-115735677835906749?l=jatropha-expedition.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/feeds/115735677835906749/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30383559&amp;postID=115735677835906749' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115735677835906749'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115735677835906749'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/2006/09/jatropha-expedition-2006.html' title='Jatropha Expedition 2006'/><author><name>TB</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30383559.post-115494515867835649</id><published>2006-08-07T02:45:00.000-07:00</published><updated>2006-08-07T03:05:58.756-07:00</updated><title type='text'>Membahas Kendala Pada Konverter</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/983/3296/1600/Tes%20Mobil%20di%20Festival-kecil.jpg"&gt;&lt;img style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/983/3296/320/Tes%20Mobil%20di%20Festival-kecil.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Cerita perjalanan pengujian minyak jarak murni dalam "Jatropha Expedition 2006" memang telah menarik banyak orang. Dalam kisah yang tertuang dalam jurnal ini, tim sempat mengalami kendala dengan konverter di kala suhu lingkungan anjlok. Seorang pembaca setia yang juga pemerhati energi hijau, Uter Widodo, mengirimkan masukan kepada tim. "Karena kendala adalah pengentalan minyak jarak pada saat suhu rendah maka kami menyarankan saluran minyak jarak sebelum dialirkan ke konverter sebaiknya dilewatkan radiator baik itu dtempelkan di luar radiator atau pipa tersebut dimasukkan di ruang dalam radiator (air panas). Hal ini pernah kami lakukan pada mesin diesel hardtop dan ternyata tidak bermasalah&lt;br /&gt;pada saat kami berjalan pada malam hari dan suhu di bawah 15 derajat Celcius. Dan komposisi minyak kami murni tanpa tambahan apapun."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Prabowo dari PT Agraprana menanggapi masukan tersebut. Ada dua penyebab utama dari gangguan yang dialami. Pertama, karena konverter tak dapat berfungsi sebagaimana mestinya, disebabkan pada saat temperatur udara turun begitu rendah, mesin secara otomatis menutup aliran cairan pendinginnya ke radiator. Ini bertujuan, agar panas dari mesin itu tak terbuang percuma dan membuat mesin tidak bekerja efisien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantaran aliran cairan pendingin ke radiator terhenti, otomatis konverter tak mendapatkan energi panas yang dibutuhkan untuk menurunkan viskositas minyak jarak. Akibatnya, minyak jarak menjadi kental, sehingga alirannya terhambat saat melewati filter. Pada akhirnya pasokan bahan bakar ke mesin menjadi terganggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah tersebut sudah dapat di atasi pada prototipe berikutnya, yang tak mengambil panas dari aliran cairan pendingin ke radiator, tetapi mengambil panas dari aliran cairan pendingin di dalam mesin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang kedua, kestabilan dari minyak jarak murni juga kurang mumpuni pada temperatur yang begitu rendah. "Tapi mohon diingat, minyak jarak yang dipakai adalah minyak jarak murni tanpa ditambah aditif setetes pun," sebut Prabowo yang terus menyempurnakan prototipe konverter. Jadi nantikan terus kisah minyak jarak murni di masa mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Foto: Pengetesan Mobil 100% minyak jarak murni dalam Festival Jatropha di Sanur, Bali, beberapa waktu lalu (Lambok Hutabarat/National Geographic Indonesia)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30383559-115494515867835649?l=jatropha-expedition.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/feeds/115494515867835649/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30383559&amp;postID=115494515867835649' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115494515867835649'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115494515867835649'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/2006/08/membahas-kendala-pada-konverter.html' title='Membahas Kendala Pada Konverter'/><author><name>penulis lepas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06858550528843840834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30383559.post-115461516149858172</id><published>2006-08-03T07:15:00.000-07:00</published><updated>2006-08-03T07:26:01.506-07:00</updated><title type='text'>Dari Pameran ke Pameran</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Usai menghebohkan gelaran International Indonesia Motor Show 2006 beberapa waktu lalu, mobil-mobil Jatropha Expedition telah siap "mejeng" dalam Pameran Produksi Indonesia (PPI), yang digelar Departemen Perindustrian di arena Pekan Raya Jakarta, 7 - 15 Agustus 2006.  Seperti biasa, duet Mitsubishi Strada berbahan bakar 100 persen minyak jarak murni serta 50:50 minyak solar dan minyak jarak murni unjuk tampang pada setiap pengunjung. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Buat yang penasaran pengen mengintip "jeroan" mobil juga bisa. Lha, kap mesinnya dibuka kok. Di pameran ini juga dipampangkan foto-foto selama perjalanan panjang, Atambua, NTT hingga Jakarta, berjarak sekitar 3200 kilometer.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Belum cukup itu, tim ekspedisi juga telah menyiapkan film perjalanan. Sambutan yang meriah selama perjalanan di Nusa Tenggara Timur, Pameran Serba Jarak di Sanur, Bali, Penyambutan di Institut Teknologi Bandung hingga diterima Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di halaman Istana Negara dapat kita saksikan dalam film tersebut.&lt;/span&gt;  Menarik kan?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30383559-115461516149858172?l=jatropha-expedition.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/feeds/115461516149858172/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30383559&amp;postID=115461516149858172' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115461516149858172'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115461516149858172'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/2006/08/dari-pameran-ke-pameran.html' title='Dari Pameran ke Pameran'/><author><name>penulis lepas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06858550528843840834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30383559.post-115434608369882958</id><published>2006-07-31T04:39:00.000-07:00</published><updated>2006-07-31T04:41:23.700-07:00</updated><title type='text'>Jarak Tumbuh Liar di NTT</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Kupang, Kompas - Ribuan hektar pohon jarak (Jatropha curcas L) tersebar di sejumlah areal hutan di Nusa Tenggara Timur dengan tingkat kualitas jauh lebih tinggi dari pohon jarak di daerah lain. Minyak pohon jarak itu selama ini sebatas dimanfaatkan masyarakat di kampung-kampung terpencil untuk sarana penerangan rumah tangga. Pemprov NTT baru melakukan budidaya jarak sekitar 28.000 hektar di Kabupaten Belu.&lt;br /&gt;Kepala Subdinas Pengembangan Tanaman Dinas Perkebunan NTT Ir Funan Ignatius di Kupang, Sabtu (29/7), mengatakan, tanaman jarak sudah lama dikenal masyarakat NTT, tetapi masyarakat tidak banyak mengetahui manfaatnya. "Mereka hanya mengambil biji jarak untuk diambil minyaknya dan digunakan untuk penerangan malam hari. Bahkan di desa-desa terpencil jauh dari penerangan listrik, hingga sekarang masih menggunakan minyak biji jarak untuk penerangan. Biji jarak ditumbuk bersama kapas sampai halus, kemudian dibalutkan pada lidi atau ranting kayu dan dibakar," kata Funan.&lt;br /&gt;Belum ada data resmi tentang potensi pohon jarak yang ada di hutan-hutan di NTT saat ini. Diperkirakan jutaan pohon jarak alam tersebar di 15 kabupaten.&lt;br /&gt;Kepemilikan&lt;br /&gt;Sampai saat ini belum ada warga masyarakat mengklaim areal-areal yang mengandung pohon jarak sebagai hak milik. Apabila jarak benar-benar memberi manfaat sebagai pengganti solar untuk bahan bakar kendaraan, dan memberi manfaat ekonomis bagi masyarakat, mereka akan memberi perhatian khusus. Pohon jarak yang tersebar di hutan akan diburu, bahkan dirawat dan dibudidayakan masyarakat secara khusus.&lt;br /&gt;NTT memang cocok untuk tanaman jarak karena jenis tanaman ini suka tumbuh di lahan kritis dan di dataran rendah. Sesuai penelitian, jarak yang tumbuh di dataran rendah kadar minyaknya jauh lebih berkualitas dibandingkan dataran tinggi.&lt;br /&gt;Ada beberapa jenis jarak di NTT, tetapi sedang diteliti. Pemerintah Provinsi NTT sedang menanam sekitar 28.000 anakan di Kabupaten Belu sebagai contoh pengembangan jarak di kabupaten lain.&lt;br /&gt;Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Bali Nyoman Supartha di Denpasar mengatakan, setidaknya sekitar 210.000 hektar lahan kering atau kritis di Pulau Bali cocok ditanami jarak. Lahan yang tergolong marjinal itu umumnya terbentang di Bali bagian utara, Karangasem, dan Nusa Penida.&lt;br /&gt;Sedangkan Pemprov Nusa Tenggara Barat (NTB) secara resmi melarang penjualan setek pohon jarak pagar ke provinsi lain sebagai upaya pelestarian plasma nutfah jarak lokal.&lt;br /&gt;Pemprov NTB telah mengembangkan tanaman jarak seluas 675.500 hektar sejak 2006. Petani juga menanam jarak pada areal 950 hektar, dengan produksi 20 ton tahun 2004, naik jadi 50 ton tahun 2005, dan 160 ton tahun 2006. Harga jual biji jarak untuk bibit Rp 5.000 per kilogram. (KOR/ANS/RUL)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;Sumber: KOMPAS, Senin, 31 Juli 2006 &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30383559-115434608369882958?l=jatropha-expedition.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/feeds/115434608369882958/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30383559&amp;postID=115434608369882958' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115434608369882958'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115434608369882958'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/2006/07/jarak-tumbuh-liar-di-ntt.html' title='Jarak Tumbuh Liar di NTT'/><author><name>penulis lepas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06858550528843840834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30383559.post-115434543513857062</id><published>2006-07-31T04:24:00.000-07:00</published><updated>2006-07-31T04:30:35.153-07:00</updated><title type='text'>Delapan Kandidat Doktor soal Jarak Pagar ke Belanda</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Jakarta, Kompas - Di tengah upaya pengembangan energi alternatif, disiapkan delapan kandidat doktor terkait pengembangan tanaman jarak pagar (Jatropha curcas). Kedelapan orang terpilih akan mengikuti program empat tahun yang rencananya dimulai bulan Agustus 2006 di Belanda.&lt;br /&gt;"Pengembangan tanaman jarak pagar sangat prospektif dan kita perlu para ahli, termasuk kemungkinan mengembangkan produk-produk turunannya," kata Prof Robert Manurung, peneliti pada Pusat Penelitian Bioteknologi Institut Teknologi Bandung (ITB), ketika dihubungi seusai rapat rencana pengembangan energi alternatif di Jakarta, Kamis (27/7).&lt;br /&gt;Robert merupakan tokoh di balik ekspedisi minyak jarak murni sebagai pengganti bahan bakar minyak (BBM). Ekspedisi menguji tiga mobil bermesin diesel Mitsubishi telah menempuh jarak sekitar 3.200 kilometer dari Atambua (NTB)-Denpasar-Bandung-Jakarta.&lt;br /&gt;Khusus untuk program doktor itu, Pemerintah Belanda menghibahkan dana melalui institusi The Netherlands Royal Academic of Arts and Sciences sebesar 1 juta Euro. Kedelapan kandidat yang terpilih dari beberapa pelamar akan belajar di Universitas Groningen dan Universitas Wageningen, Belanda.&lt;br /&gt;Masa belajar dijadwalkan berlangsung empat tahun, masing-masing dua tahun di Belanda dan dua tahun di Indonesia. Mereka dibimbing bersama promotor dari Indonesia dan Belanda. "Di Belanda mereka akan meneliti di laboratorium yang lebih lengkap dibandingkan di Indonesia," kata Robert.&lt;br /&gt;Belanda disebut-sebut sebagai salah satu negara yang dengan jelas mendukung pengembangan energi alternatif, khususnya yang bersumber dari tanaman jarak pagar. Beberapa pihak menolak energi yang bersumber dari minyak kelapa sawit, karena pembudidayaannya monokultur dan kurang ramah lingkungan.&lt;br /&gt;Kedelapan kandidat doktor, diantaranya berasal ITB, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), dan beberapa perguruan tinggi lainnya. Mereka secara khusus akan meneliti perbaikan kualitas minyak jarak dan berbagai produk turunannya, termasuk pemanfaatan limbah biji jarak. Menurut Robert, salah satu penelitian yang sedang dikembangkan adalah pembuatan plastik yang dapat terdegradasi secara biologi. Adapun bahan bakunya berasal dari tanaman jarak dan singkong.&lt;br /&gt;Secara terpisah, Prof HJ Heeres dari Universitas Groningen yang mengikuti perkembangan ekspedisi minyak jarak murni mengatakan, energi alternatif yang bersumber dari jarak pagar sangat penting untuk masa depan. Karena itu, berbagai penelitian serius layak dikembangkan. "Ini momentum yang sangat bersejarah. Lima puluh tahun mendatang, anak cucu kita akan mengenang peristiwa ini," katanya ketika turut menyambut tim di Mataram, NTB. (GSA)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: KOMPAS, Jumat, 28 Juli 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30383559-115434543513857062?l=jatropha-expedition.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/feeds/115434543513857062/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30383559&amp;postID=115434543513857062' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115434543513857062'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115434543513857062'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/2006/07/delapan-kandidat-doktor-soal-jarak.html' title='Delapan Kandidat Doktor soal Jarak Pagar ke Belanda'/><author><name>penulis lepas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06858550528843840834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30383559.post-115346161329726139</id><published>2006-07-20T22:55:00.000-07:00</published><updated>2006-07-30T22:48:46.020-07:00</updated><title type='text'>Presiden: Minyak Jarak Bisa Dikembangkan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/802/3098/1600/_MG_6439.0.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/802/3098/320/_MG_6439.0.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;JAKARTA, KOMPAS - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menerima rombongan Jatropha Expedition 2006 setelah menempuh perjalanan 3.000 kilometer dari Atambua di halaman parkir Gedung Bina Graha, Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (20/7). Keberhasilan ekspedisi ini membuktikan bahwa minyak jarak murni sebagai energi alternatif berpeluang besar dikembangkan di Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Menurut Presiden, peluang besar pengembangan minyak jarak murni (pure jatropha oil) di Indonesia sejalan dengan kebijakan energi pemerintah untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar minyak tak terbarukan. Peluang besar Indonesia mengembangkan minyak jarak didukung dengan tersedianya lahan yang luas, budaya bertani, ketersediaan tenaga kerja, mesin, infrastruktur, dan adanya pasar baik dalam maupun luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini merupakan peluang besar yang tidak boleh kita sia-siakan. Oleh karena itu, sekarang dan ke depan ini, di samping yang sudah berkembang, pemerintah bersama semua kalangan ingin mengembangkan green energy besar-besaran untuk keamanan ketersediaan energi," ujarnya.&lt;br /&gt;Kebijakan itu juga untuk membuka lapangan pekerjaan, mengurangi kemiskinan, menggerakkan ekonomi lokal, dan penghematan penggunaan devisa karena tidak lagi diperlukan untuk mencukupi kebutuhan energi tak terbarukan dari luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat menerima Jatropha Expedition 2006, Presiden didampingi Menteri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman bersama sejumlah menteri dan Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB) Djoko Santoso.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat besarnya potensi pengembangan minyak jarak murni, Presiden berjanji akan memberikan fasilitas, payung kebijakan, dan insentif tertentu agar potensi besar ini terwujud.&lt;br /&gt;Perjalanan dari Atambua ke Jakarta secara keseluruhan berlangsung lancar. Berbagai medan dan kondisi jalan dilalui seperti rute pendakian di pegunungan, jalan sempit, berkelok, hingga padat lalu lintas. "Kondisi itu amat membantu peneliti mendapatkan serangkaian data keunggulan dan kelemahan minyak jarak murni. Ini akan ditindaklanjuti dengan pengujian berikut," ujar Pemimpin Redaksi National Geographic Indonesia sekaligus pemimpin ekspedisi Tantyo Bangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Evaluasi perjalanan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Setelah menempuh perjalanan sejauh sekitar 3.200 km dari Atambua, Denpasar, Bandung, hingga Jakarta, penggunaan minyak jarak murni tidak menemui hambatan berarti. Salah satu persoalan yang ditemui terjadi pada konverter tambahan mesin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika melintasi jalur perbukitan di wilayah Bajawa, Kabupaten Ngada, indikator stasioner terlihat naik turun, menunjukkan ada masalah suplai bahan bakar. Menurut teknisi yang juga perancang konverter, Prabowo Kertoleksono, temperatur udara 13 derajat Celsius menyebabkan mesin tak mendapat aliran air pendingin ke radiator. Padahal, konverter butuh energi cukup dari suplai air. Minyak jarak juga terhambat masuk ke mesin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan mirip juga terjadi pada kendaraan dengan komposisi 50:50, yang sebelumnya tidak diduga. "Ini menunjukkan harus ada pengembangan konverter. Ini butuh waktu," katanya.&lt;br /&gt;Persoalan lain yang ditemui dan dinilai sebagai anomali adalah uji emisi jelaga pada ketiga mobil uji. Hasil tes menunjukkan ketidakkonsistenan persentase kandungan jelaga. Penyelesaian persoalan masih akan digali melalui uji coba ratusan kilometer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, penemu sekaligus penggagas minyak jarak murni sebagai pengganti BBM, Prof Robert Manurung, menyatakan kepuasannya. Salah satu pengembangan yang sedang dikerjakan adalah menemukan formula minyak jarak yang lebih encer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk minyak jarak sendiri, di daerah kering seperti Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat, masyarakat setempat telah menanam tanaman jarak pagar dan sempat ditinjau rombongan. PT Bio Chem Prima Internasional, satu pendukung ekspedisi, berencana memasok bibit jarak pagar kualitas unggul untuk masyarakat agar bisa didapat tanaman tahan hama dan berbuah banyak untuk dijadikan minyak jarak murni. (INU/GSA)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: KOMPAS, Jumat 21 Juli 2006 &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30383559-115346161329726139?l=jatropha-expedition.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/feeds/115346161329726139/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30383559&amp;postID=115346161329726139' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115346161329726139'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115346161329726139'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/2006/07/presiden-minyak-jarak-bisa.html' title='Presiden: Minyak Jarak Bisa Dikembangkan'/><author><name>penulis lepas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06858550528843840834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30383559.post-115338161868442753</id><published>2006-07-20T00:42:00.000-07:00</published><updated>2006-07-20T00:46:58.936-07:00</updated><title type='text'>Celaka Di Akhir Etape Dua</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Selepas Bali, Tim bergerak dengan semangat baru setelah satu hari beristirahat dan menyaksikan Jatropha Festival di Sanur. Perjalanan lancar dan ditempuh dengan cepat melintasi Banyuwangi, Pasuruan, kemudian turun ke selatan ke arah Jombang Nganjuk dan Solo non stop.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang pagi iringan bergerak naik ke jalur Pantura (pantai utara), dengan mulai dari Semarang. Pimpinan ekspedisi telah mengingatkan bahwa di etape 2 secara kesulitan medan tidak akan sesulit etape pertama, namun tantanganya adalah kepadatan lalu lintas di jalanan pulau jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peringatan tersebut mendapat ujiannya ketika tim hendak memasuki kota Tegal. Sebuah becak dan sebuah sepeda motor melakukan gerakan yang tidak diduga oleh iringan sehingga menyebabkan tabrakan beruntun di antara iringan.  Akibat kejadian itu, sebuah mobil pendukung tidak bisa melanjutkan perjalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hambatan tersebut menyebabkan tim makin waspada namun tetap melanjutkan target hari itu yaitu tiba di kota Bandung. Sebelumnya tim sempat mengunjungi perkebunan jarak pagar yang telah dirintis oleh Rajawali Nusantara 2 di Jati Tujuh, Cirebon seluas 740 hektar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat sedikit dari pukul 21.00 setelah menembus hujan deras menjelas Bandung, tim tiba dengan selamat di Institut Teknologi Bandung dan disambut oleh Rektor ITB Djoko Santoso.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Kamis, tanggal 20 Juli, tim akan melanjutkan ke tujuan akhir diantar oleh Rektor ITB dan Menristek menuju Istana Negara yang rencananya akan diterima oleh Presiden Susilo Bambang Yoedhoyono pukul 16.00.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30383559-115338161868442753?l=jatropha-expedition.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/feeds/115338161868442753/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30383559&amp;postID=115338161868442753' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115338161868442753'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115338161868442753'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/2006/07/celaka-di-akhir-etape-dua.html' title='Celaka Di Akhir Etape Dua'/><author><name>penulis lepas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06858550528843840834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30383559.post-115338104196075647</id><published>2006-07-20T00:32:00.000-07:00</published><updated>2006-07-20T00:37:22.060-07:00</updated><title type='text'>Diterima Presiden di Istana Negara</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Usai menempuh perjalanan panjang, lebih dari 3.000 kilometer, rombongan Jatropha Expedition 2006 akhirnya tiba di Jakarta pada Kamis, 20/7. Rombongan yang mengawali perjalanan dari Atambua pada Rabu, 12/7 itu melaporkan hasil perjalanan dan pengujian kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara pada pukul 16:00 WIB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapannya, hasil-hasil tersebut dapat dijadikan landasan bagi pengembangan minyak jarak murni (pure jatropha oil) sebagai bahan bakar kendaraan bermesin diesel. Saat diterima Presiden, rombongan didampingi Menteri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman dan Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB) Djoko Santoso. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan dari Atambua menuju Istana secara keseluruhan berlangsung lancar. Berbagai tipe medan dan kondisi jalan telah berhasil dilalui rombongan. Dari rute pendakian di wilayah gunung, jalan yang sempit, berkelok dan rawan longsor hingga jalur dengan kondisi lalu lintas yang padat. Wilayah beriklim panas hingga dataran tinggi dengan suhu di bawah 15 derajat Celsius juga berhasil dilalui.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Tantyo Bangun, Pemimpin Redaksi National Geographic Indonesia sekaligus pemimpin ekspedisi, kondisi medan yang amat bervariasi tersebut tentu amat membantu para peneliti mendapatkan serangkaian data, baik keunggulan dan kelemahan, mengenai penggunaan minyak jarak murni. Data-data tersebut harus ditindak lajuti dengan pengujian berikutnya yang lebih panjang pada tahun mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami membutuhkan dukungan untuk uji coba hingga 30.000 atau 300.000 kilometer,” sebut Dr Robert Manurung, Kepala Pusat Penelitian Bioteknologi ITB yang bersama National Geographic Indonesia menggagas ide pengujian penggunaan minyak jarak murni ini. Tekad ini semakin menguat terlebih setelah sejumlah pemerintah daerah dan masyarakat yang dilalui rombongan menyatakan dukungan dan harapan terhadap penggunaan minyak jarak murni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada daerah kering seperti di Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat, masyarakat setempat telah melakukan penanaman tanaman jarak pagar. Di sela perjalanan, rombongan sempat melakukan peninjauan. PT Bio Chem Prima International, salah satu pendukung utama ekspedisi, berencana memasok bibit jarak pagar kualitas unggul kepada masyarakat, selama ini bibit yang ditanam berasal dari stek tanaman yang sudah ada. Diharapkan, bibit unggul tersebut mampu menghasilkan tanaman yang tahan hama dan berbuah banyak.  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30383559-115338104196075647?l=jatropha-expedition.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/feeds/115338104196075647/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30383559&amp;postID=115338104196075647' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115338104196075647'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115338104196075647'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/2006/07/diterima-presiden-di-istana-negara.html' title='Diterima Presiden di Istana Negara'/><author><name>penulis lepas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06858550528843840834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30383559.post-115338068060814245</id><published>2006-07-20T00:27:00.000-07:00</published><updated>2006-07-20T00:31:20.686-07:00</updated><title type='text'>Ende Siapkan Lahan untuk Tanaman Jarak</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Ende, Kompas - Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Ende Yohanes de Deo Dari mengatakan, saat ini telah ditetapkan dua kecamatan untuk pengembangan minyak jarak sebagai energi alternatif. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;"Lahan yang dipersiapkan seluas empat hektar di Kecamatan Ndori dan 30 hektar di Maukaro. Untuk Kecamatan Ndori, penanaman pohon jarak ini merupakan bentuk diversifikasi dari tanaman jambu mete yang berada di lahan seluas 100 hektar," kata Yohanes, Senin (17/7) di Ende.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengembangan minyak jarak di dua kecamatan itu akan dibantu pemerintah daerah dan pusat. Kecamatan Ndori akan memperoleh bantuan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), sedangkan Kecamatan Maukaro akan mendapat dana dekonsentrasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Lahan cukup dan terbuka&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Menurut Yohanes, penetapan tempat budidaya jarak pagar di Maukaro antara lain karena tersedia lahan yang cukup. Selain itu, untuk menghasilkan biji jarak yang baik, perlu lahan yang terbuka. Apabila tanaman jarak pagar (Jantropha curcas) ditanam di lahan tertutup, yang banyak terdapat pohon pelindung atau berada di bawah naungan pohon lain, hasilnya tak akan terlalu baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saat ini kami sedang melakukan pemetaan areal mana saja yang memenuhi syarat, dan juga mencari lahan-lahan tidur atau kosong," kata Yohanes. Dia juga mengatakan, tanaman jarak pagar sebenarnya banyak ditanam warga di Ende sehingga bukanlah tanaman yang asing bagi mereka. Namun, dari aspek budidaya, manfaat, maupun aspek ekonomi mungkin belum sepenuhnya dipahami masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini tanaman jarak pagar umumnya dimanfaatkan oleh warga untuk pagar kebun atau difungsikan sebagai tanaman penjalar vanili. Bahkan tidak jarang tanaman jarak dimanfaatkan sebagai bahan campuran untuk merebus daging. "Berkaitan dengan program pengembangan energi alternatif ini, kami akan melakukan sosialisasi terlebih dahulu agar masyarakat benar-benar mengetahui besarnya potensi tanaman jarak pagar," ujar Yohanes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diharapkan, setelah itu antusias warga akan muncul dengan sendirinya. "Mereka mau melakukan budidaya karena tanaman tersebut bukanlah tanaman yang asing bagi mereka," kata Yohanes menambahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut rencana, tahun ini Kabupaten Ende akan mendapat bantuan skala kecil berupa dua alat pengolah biji jarak dari Badan Pengelolaan DAS NTT. Selain itu, akan dikucurkan pula dana sebesar Rp 600 juta dari dana dekonsentrasi, antara lain untuk perbaikan infrastruktur jalan di Maukaro seluas empat kilometer. Penyaluran dana tersebut melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Lahan dan Air Departemen Pertanian. (SEM)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sumber: KOMPAS, Selasa 18 Juli 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30383559-115338068060814245?l=jatropha-expedition.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/feeds/115338068060814245/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30383559&amp;postID=115338068060814245' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115338068060814245'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115338068060814245'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/2006/07/ende-siapkan-lahan-untuk-tanaman-jarak_20.html' title='Ende Siapkan Lahan untuk Tanaman Jarak'/><author><name>penulis lepas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06858550528843840834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30383559.post-115338023447717643</id><published>2006-07-20T00:19:00.000-07:00</published><updated>2006-07-20T00:23:55.876-07:00</updated><title type='text'>Uji Lanjut Penggunaan Minyak Jarak Sedang Digagas</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Sanur, Kompas - Meskipun uji coba penggunaan minyak jarak murni pada mesin kendaraan bermotor belum selesai, sudah muncul gagasan mengadakan uji lanjutan penggunaannya hingga ratusan kilometer. Uji coba yang digelar saat ini rencananya akan menempuh jarak 3.000 kilometer dari Atambua-Denpasar-Bandung-Jakarta, 12-20 Juli 2006. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;"Tentunya kami membutuhkan dukungan untuk uji coba hingga 30.000 atau 300.000 kilometer. Uji coba saat ini memang masih harus dikembangkan lagi," kata Kepala Pusat Penelitian Bioteknologi Institut Teknologi Bandung (ITB) sekaligus pimpinan proyek minyak jarak pagar murni sebagai pengganti solar, Prof Robert Manurung, dalam sambutan Festival Jatropha 2006 di Bali, Senin (17/7).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara kemarin turut dihadiri Direktur Jenderal Industri Agro dan Kimia Departemen Perindustrian, Benny Wahyudi, Bupati Yapen Waropen Provinsi Papua Daud Sulaiman Betawi, dan Wakil Presiden Direktur Kelompok Kompas Gramedia (KKG) sekaligus Pemimpin Redaksi Harian Kompas Suryopratomo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diakui Robert, pihaknya mendengar adanya berbagai pihak yang mempertanyakan kesahihan uji coba penggunaan minyak jarak murni pada kendaraan bermotor. Hal itu dipicu jarak tempuh yang "hanya" 3.000 kilometer. Uji coba ekspedisi jatropha baru menempuh jarak sekitar 1.600 kilometer. Sejauh ini, seluruh mobil uji yang digunakan tidak mengalami gangguan berarti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada festival kemarin, minyak jarak pagar murni juga digunakan sebagai energi penggerak mesin diesel 20 kVA. Selain itu, juga untuk menyalakan kompor minyak dan pelita.&lt;br /&gt;Upaya-upaya mengembangkan energi alternatif sebagai pengganti energi fosil, hingga kini juga mulai memperoleh sambutan pemerintah. Dalam sambutan tertulisnya, Menteri Perindustrian Fahmi Idris mengatakan, tahun 2006 ini akan dibangun empat pabrik biodiesel yang akan disusul empat pabrik lagi pada tahun berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti diungkapkan Suryopratomo, upaya-upaya penemuan energi alternatif patut terus didukung dan dikembangkan. Hal ini telah dilakukan banyak negara di dunia seiring semakin langkanya energi fosil. Contoh paling relevan adalah melambungnya harga minyak dunia seiring serangan Israel ke Palestina. Dengan adanya energi alternatif, maka kejadian-kejadian serupa tidak akan menyengsarakan banyak warga di negara-negara berkembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada Kompas, Bupati Yapen Waropen Daud Sulaiman mengatakan bahwa daerahnya telah membuka 30 hektar lahan untuk ditanami jarak pagar (Jatropha curcas). Total lahan yang akan dibuka mencapai 500 hektar. "Dua juta hektar akan ditanami jarak pagar pada delapan kabupaten. Minggu depan akan mulai pembibitan," kata Daud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara khusus, kampanye penanaman jarak pagar akan diperluas pada Yapen Techno Agroplitan, September 2006 mendatang. Selain menanam jarak, juga akan dibangun pabrik pengolahan sebagai bahan bakar minyak. "Kami berharap pengembangan jarak pagar ini akan turut menyejahterakan petani di Yapen yang masih terbelakang," kata Daud. (GSA)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sumber: KOMPAS, Rabu, 19 Juli 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30383559-115338023447717643?l=jatropha-expedition.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/feeds/115338023447717643/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30383559&amp;postID=115338023447717643' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115338023447717643'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115338023447717643'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/2006/07/uji-lanjut-penggunaan-minyak-jarak.html' title='Uji Lanjut Penggunaan Minyak Jarak Sedang Digagas'/><author><name>penulis lepas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06858550528843840834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30383559.post-115322537961699265</id><published>2006-07-18T05:21:00.000-07:00</published><updated>2006-07-18T05:23:00.273-07:00</updated><title type='text'>Serba Jarak di Festival Jarak</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Puluhan anak-anak beriringan ke tengah lapangan rumpu seluas 250 mter persegi. Di tangan mereka memegang erat sebeliah bambu berujungkan lentera minyak jarak murni. Aksi anak-anak yang memakai pakaian adat Bali itu menarik perhatian para tamu dan undangan Festival Jatropha 2006, di kawasan Sanur, Bali, Senin malam, 17/7. Aksi parade lampion yang diisi dengan cahaya bersumber minyak jarak murni menambah semarak suasana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesempatan sama, Dirjen Industri Agro dan Kimia Departemen Perindustrian Benny Wahyudi secara simbolis menyalakan generator Olympian GEP – 22 PT Trakindo Utama yang telah diisi dengan bahan bakar minyak jarak murni. Generator mampu menghasilkan energi listrik sebesar 20 kVA. Nilai ini setara menerangi 18 rumah dan sekitar 400 lampu. Pada Festival Jatropha, PT Trakindo Utama juga memboyong mesin Caterpillar D3456TA 50 Hz, 364 kW/455 kVA, 400 V.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak awal ekspedisi digelar, , PT. Trakindo Utama, salah satu pendukung Jatropha Expedition 2006, menyatakan, dukungan terhadap pemakaian bahan bakar nabati, khususnya minyak jarak murni. Sebab, pemakaian bahan bakar nabati tentu akan dapat menekan biaya operasi. “Selain itu, kami berkomitmen untuk membantu Pemerintah Indonesia untuk mengurangi pemakaian bahan bakar fosil,” ujar Steve Kilgallon, General Manager for Power System Division PT Trakindo Utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PT Wartsila Indonesia juga menyambut positif berbagai contoh pemakaian minyak jarak dalam festival ini. Perusahaan pembuat dan penyedia pembangkit energi (power plants) yang berkantor pusat di Finlandia ini berharap minyak jarak murni dapat segera digunakan pada mesin-mesin yang mereka yang pakai. ”Tentu aplikasi itu dilakukan setelah melalui serangkaian pengujian seperti yang dilakukan dalam Jatropha Expedition 2006,” ujar Tengku Ruswir, Manajer Penjualan PT Wartsila Indonesia, yang juga berpatisipasi dalam Jatropha Expedition 2006. Di Findlandia, Wartsila telah menggunakan Crude Palm Oil (CPO) sebagai kombinasi bahan bakar mesin diesel sejak 2001. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam festival tersebut, para penari tardisional Bali juga menyajikan tarian api dan bola api yang menggunakan minyak jarak murni sebagai bahan bakar. Sebelumnya, para peneliti Puslit Bioteknologi ITB memeragakan penggunaan minyak jarak murni sebagai bahan bakar kompor tekan. Untuk kebutuhan tersebut, kita dapat mencampur minyak jarak dengan minyak tanah dengan perbandingan 3 : 1. Malam itu, kawasan Sanur suguhi demontrasi potensi tanaman jarak pagar.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30383559-115322537961699265?l=jatropha-expedition.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/feeds/115322537961699265/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30383559&amp;postID=115322537961699265' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115322537961699265'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115322537961699265'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/2006/07/serba-jarak-di-festival-jarak.html' title='Serba Jarak di Festival Jarak'/><author><name>penulis lepas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06858550528843840834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30383559.post-115322194812996683</id><published>2006-07-18T04:23:00.000-07:00</published><updated>2006-07-18T04:25:48.290-07:00</updated><title type='text'>Ende Siapkan Lahan untuk Tanaman Jarak</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Ende, Kompas - Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Ende Yohanes de Deo Dari mengatakan, saat ini telah ditetapkan dua kecamatan untuk pengembangan minyak jarak sebagai energi alternatif. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;"Lahan yang dipersiapkan seluas empat hektar di Kecamatan Ndori dan 30 hektar di Maukaro. Untuk Kecamatan Ndori, penanaman pohon jarak ini merupakan bentuk diversifikasi dari tanaman jambu mete yang berada di lahan seluas 100 hektar," kata Yohanes, Senin (17/7) di Ende.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengembangan minyak jarak di dua kecamatan itu akan dibantu pemerintah daerah dan pusat. Kecamatan Ndori akan memperoleh bantuan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), sedangkan Kecamatan Maukaro akan mendapat dana dekonsentrasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Lahan cukup dan terbuka&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Menurut Yohanes, penetapan tempat budidaya jarak pagar di Maukaro antara lain karena tersedia lahan yang cukup. Selain itu, untuk menghasilkan biji jarak yang baik, perlu lahan yang terbuka. Apabila tanaman jarak pagar (Jantropha curcas) ditanam di lahan tertutup, yang banyak terdapat pohon pelindung atau berada di bawah naungan pohon lain, hasilnya tak akan terlalu baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saat ini kami sedang melakukan pemetaan areal mana saja yang memenuhi syarat, dan juga mencari lahan-lahan tidur atau kosong," kata Yohanes. Dia juga mengatakan, tanaman jarak pagar sebenarnya banyak ditanam warga di Ende sehingga bukanlah tanaman yang asing bagi mereka. Namun, dari aspek budidaya, manfaat, maupun aspek ekonomi mungkin belum sepenuhnya dipahami masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini tanaman jarak pagar umumnya dimanfaatkan oleh warga untuk pagar kebun atau difungsikan sebagai tanaman penjalar vanili. Bahkan tidak jarang tanaman jarak dimanfaatkan sebagai bahan campuran untuk merebus daging.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Berkaitan dengan program pengembangan energi alternatif ini, kami akan melakukan sosialisasi terlebih dahulu agar masyarakat benar-benar mengetahui besarnya potensi tanaman jarak pagar," ujar Yohanes. Diharapkan, setelah itu antusias warga akan muncul dengan sendirinya. "Mereka mau melakukan budidaya karena tanaman tersebut bukanlah tanaman yang asing bagi mereka," kata Yohanes menambahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut rencana, tahun ini Kabupaten Ende akan mendapat bantuan skala kecil berupa dua alat pengolah biji jarak dari Badan Pengelolaan DAS NTT. Selain itu, akan dikucurkan pula dana sebesar Rp 600 juta dari dana dekonsentrasi, antara lain untuk perbaikan infrastruktur jalan di Maukaro seluas empat kilometer. Penyaluran dana tersebut melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Lahan dan Air Departemen Pertanian. (SEM)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Harian KOMPAS, Selasa, 18 Juli 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30383559-115322194812996683?l=jatropha-expedition.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/feeds/115322194812996683/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30383559&amp;postID=115322194812996683' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115322194812996683'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115322194812996683'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/2006/07/ende-siapkan-lahan-untuk-tanaman-jarak.html' title='Ende Siapkan Lahan untuk Tanaman Jarak'/><author><name>penulis lepas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06858550528843840834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30383559.post-115319983953247634</id><published>2006-07-17T22:15:00.000-07:00</published><updated>2006-07-17T22:17:19.846-07:00</updated><title type='text'>Rombongan Jatropha Menuju Kota Kembang</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Usai menggelar festival jatropha di Sanur, Bali, hari ini, Selasa, (18/7), rombongan Jatropha Expedition 2006 kembali melanjutkan perjalanan menuju Kota Bandung, Jawa Barat. Diperkirakan rombongan akan tiba pada Rabu, (19/7) sore dan langsung menuju kompleks rektorat Institut Teknologi Bandung (ITB). Di sini, juga digelar pameran foto mengenai jatropha dan perjalanan pengujian minyak jarak murni. Tak ketinggalan maket perkebunan tanaman jarak pagar dan teknologi pengolahannya juga disajikan kepada publik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat tiba di ITB, rombongan akan menghadiri acara penyambutan oleh Rektor Djoko Santoso. Tantyo Bangun dari National Geographic Indonesia, Dr. Robert Manurung dari Pusat Penelitian Bioteknologi ITB dan Wilson Pribadi dari PT Bio Chem Prima International akan memberikan laporan ringkas perjalanan ekspedisi ini. Lalu acara akan dilanjutkan dengan pemutaran film perjalanan yang menyajikan petualangan khas National Geographic Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena adanya musibah tsunami di wilayah Pantai Selatan Jawa, kami akan melalui jalur Pantura,” ujar Lambok Hutabarat, salah seorang pendukung ekspedisi dari National Geographic Indonesia sembari menyampaikan keprihatinan dan rasa duka yang mendalam atas bencana alam yang telah merenggut ratusan jiwa tersebut. Dari Denpasar, rombongan menuju Pelabuhan Gilimanuk untuk menumpang feri menuju Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi. Lalu perjalanan diteruskan menuju Surabaya melalui Paiton, di mana terdapat Pembangkit Listrik Tenaga Uap Paiton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas Surabaya, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Semarang dan terus ke Cirebon. Dari Cirebon, rombongan akan memasuki jalan tol yang mengarah Bandung. “Di daerah Jatiwangi, kami akan singgah di Perkebunan Jarak Pagar Jatitujuh,” ucap Lambok. Hal yang sama telah dilakukan ketika rombongan melintasi wilayah Nusa Tenggara Timur.   &lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30383559-115319983953247634?l=jatropha-expedition.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/feeds/115319983953247634/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30383559&amp;postID=115319983953247634' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115319983953247634'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115319983953247634'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/2006/07/rombongan-jatropha-menuju-kota-kembang.html' title='Rombongan Jatropha Menuju Kota Kembang'/><author><name>penulis lepas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06858550528843840834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30383559.post-115313942309001382</id><published>2006-07-17T05:27:00.000-07:00</published><updated>2006-07-17T05:30:23.406-07:00</updated><title type='text'>Festival Jatropha di Bali</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Mataram, Kompas - Masih dalam rangkaian Jatropha Expedition 2006 yang difasilitasi National Geographic Indonesia, pada hari kelima ekspedisi—17 Juli 2006—akan digelar Festival Jatropha di Pulau Bali. Minyak jarak pagar murni akan dijadikan energi penggerak seperti generator diesel dan kompor minyak untuk memasak. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Festival yang baru pertama kali digelar tersebut dijadwalkan dibuka oleh Menteri Perindustrian Fahmi Idris, dihadiri sejumlah pejabat pusat dan daerah. "Ini merupakan rangkaian uji coba penggunaan energi terbarukan yang kami fasilitasi, sekaligus kampanye penggunaannya bagi keperluan masyarakat," kata Pimpinan Jatropha Expedition 2006, Tantyo Bangun, saat rombongan diterima Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Lalu Srinata di Mataram, Minggu (16/7).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga kemarin, rombongan tim ekspedisi telah menempuh jarak sekitar 1.300 kilometer dari Atambua, Kupang, NTT. Di Mataram, rombongan dilepas Gubernur NTB, yang sekaligus gubernur pertama yang mendukung kampanye minyak jarak murni sebagai bahan bakar diesel.&lt;br /&gt;Kepada rombongan ekspedisi, Lalu Srinata menyatakan bahwa masyarakatnya telah menunggu implementasi penggunaan minyak jarak pagar bagi masyarakat. Selama ini, penduduk NTB dan NTT telah menggunakan secara tradisional seperti untuk lampu penerangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami telah menggunakannya, tetapi secara ekonomi tidak termanfaatkan secara signifikan. Seiring dengan pengembangan ini, kami berharap masyarakat memperoleh dampak ekonomi secara signifikan," kata dia. Dari sekitar 1,8 juta hektar lahan tidak produktif di NTB, sekitar 600.000 hektar siap ditanami jarak pagar (Jatropha curcas).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kenali persoalan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dari hasil analisa awal setelah menempuh jarak hampir 1.000 kilometer dari Larantuka-Labuan Bajo, ditemukan bukti penggunaan minyak jarak murni 100 persen lebih boros dibandingkan komposisi 50:50 dan 100 persen solar. Adapun perbandingannya, pada mesin diesel Mitsubishi dengan 100 persen minyak jarak pagar, 1 liter : 7,4 km, sedangkan pada komposisi 50:50 (1:9,06 km), sementara pada komposisi 100 persen minyak solar (1:9,07 km).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Temuan ini menurut saya anomali karena terpaut terlalu jauh. Bisa jadi karena jenis lintasan, penggunaan AC, dan perilaku sopir," kata teknisi dari Agrapana, Prabowo Kartoleksono.&lt;br /&gt;Sebagai gambaran, lintasan sepanjang Larantuka-Labuan Bajo yang ditempuh selama 24 jam penuh melewati jalur naik turun bukit dan berliku-liku curam. Mobil dengan bahan bakar 100 persen minyak jarak murni terus dipacu paling cepat dengan AC yang dinyalakan lebih lama dibanding dua mobil uji lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adanya anomali yang diduga Prabowo terjawab ketika rombongan melintasi jalur Sape-Pototano di Pulau Sumbawa, NTB, dengan lintasan lebih mudah dibanding di Pulau Flores, NTT. Bahan bakar seratus persen minyak jarak murni lebih hemat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Harus diperbaiki&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Persoalan baru pada mesin juga ditemukan ketika rombongan berada di kawasan Danau Kelimutu, Flores, NTT. Aliran minyak jarak tersendat karena temperatur udara yang mencapai 13 derajat Celsius mengentalkan minyak jarak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gangguan juga dirasakan pada mobil dengan komposisi bahan bakar 50:50 tanpa konverter (alat pengonversi). "Ini menunjukkan bahwa konverter yang sudah ada pada mobil uji seratus persen minyak jarak masih harus diperbaiki. Ini temuan bagus buat kami," kata Prabowo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu sore, rombongan ekspedisi melanjutkan perjalanan melintasi Selat Lombok menuju Padangbai, Pulau Bali. Rombongan dijadwalkan tiba di Pulau Bali pada Minggu malam. Hari Senin ini rombongan akan mengikuti Festival Jatropha, yang merupakan implementasi minyak jarak murni pada mesin diesel statis dan kompor minyak. (GSA)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30383559-115313942309001382?l=jatropha-expedition.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/feeds/115313942309001382/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30383559&amp;postID=115313942309001382' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115313942309001382'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115313942309001382'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/2006/07/festival-jatropha-di-bali.html' title='Festival Jatropha di Bali'/><author><name>penulis lepas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06858550528843840834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30383559.post-115313036823827153</id><published>2006-07-17T02:56:00.000-07:00</published><updated>2006-07-17T03:17:46.380-07:00</updated><title type='text'>Melintasi Pulau Flores Dalam 24 Jam</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Pagi pukul 08.30 iringan mobil uji dan mobil pendukung Jatropha Expedition 2006 tiba di Labuan Bajo tepat 30 menit sebelum keberangkatan Feri Inelika ke Pulau Sumbawa, tujuan berikutnya dari ekspedisi ini. Sebelumnya selama 24 jam Ekspedisi menempuh perjalanan melintasi Pulau Flores semenjak dilepas oleh Bupati Flores Timur Simon Hayon di Larantuka, setibanya dari penyeberangan Kupang. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Alam Pulau Flores adalah salah satu medan terberat dari ekspedisi ini, dimana mobil uji menghadapi medan jalan yang berliku dan naik turun. Dari Larantuka di pantai timur, mendaki bukit berliku dan turun kembali ke Maumere di pantai utara. Selepas pantai utara, medan berliku dan rawan longor hingga desa Moni, lebih dari 1000 meter, di kaki Gunung Kelimutu. Di daerah itu kabut yang cukup tebal menyergap. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Sepanjang perjalanan tim mendapat sambutan antusias dari mulai masyarakat biasa hingga pejabat pemerintahan tentang tanaman jarak pagar sebagai potensi energi dan ekonomi. Beberapa orang mencegat di tengah jalan untuk menanyakan penggunaan langsung minyak jarak pagar untuk kompor masak. Louis Daniel, peneliti dari Pusat Penelitian Bioteknologi ITB menjelaskan dengan pemerasan dan penyaringan sederhana, minyak jarak pagar sudah bisa dipakai di kompor tekan dengan campuran minyak jarak pagar berbanding minyak tanah 3:1. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Tiba di Ende, pantai selatan, setelah magrib, perjalananan langsung diteruskan ke arah utara di dataran tinggi Bajawa. Suhu turun hingga 13 derajat celcius dan dalam kondisi stasioner mesin mobil diesel yang menggunakan minyak jatropha kurang konstan dalam kondisi stasioner. Namun performa dan tenaganya tetap tidak terpengaruh. Hal ini menjadi catatan dalam pengamatan tim teknis ekspedisi ini. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Dari Bajawa, tim dilepas secara adat dengan pemberian arak suci dan seekor ayam putih yang melambangkan harapan dan niat baik dari ekspedisi ini dari tetua adat setempat. Memburu waktu dengan kecepatan tinggi iringan bergerak lagi menembus malam menuju Ruteng untuk selanjutnya meneruskan ke Labuan Bajo, dan menyeberang ke Sumbawa, Lombok serta Bali untuk menghadiri Festival Jatropha sebelum menuju Jakarta.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30383559-115313036823827153?l=jatropha-expedition.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/feeds/115313036823827153/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30383559&amp;postID=115313036823827153' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115313036823827153'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115313036823827153'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/2006/07/melintasi-pulau-flores-dalam-24-jam.html' title='Melintasi Pulau Flores Dalam 24 Jam'/><author><name>penulis lepas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06858550528843840834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30383559.post-115306826109976705</id><published>2006-07-16T09:42:00.000-07:00</published><updated>2006-07-16T23:19:45.096-07:00</updated><title type='text'>Gubernur NTB Mengagumi Minyak Jarak Murni</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Usai menempuh etape Larantuka – Labuanbajo – Sape – Bima – Pototanu, rombongan Jatropha Expedition 2006 tiba di Pelabuhan Kayangan, Lombok pada Minggu (16/7), pukul 10:00 Wita. Rombongan disambut Ariyo Senoaji, Manajer Energi Terbarukan PT PLN (Persero) saat keluar dari dek KMP Darmo Santosa. Setelah itu, rombongan menghadiri jamuan makan siang dari Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Drs. HL Serinata di kantornya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gubernur NTB juga berkesempatan menjajal mobil Mitsubishi yang berbahan bakar 100 persen minyak jarak murni,” kisah Lambok Hutabarat melalui percakapan jarak jauh. Saat mencoba mobil, Gubernur Serinata didampingi Dr. Robert Manurung, Kepala Pusat Penelitian Bioteknologi ITB. Lalu bagaimana komentar Gubernur? “Ia menyatakan kekagumannya pada minyak jarak murni,” sebut Lambok. Ketika mencium asap yang keluar dari knalpot, Gubernur mengatakan, “baunya seperti minyak goreng.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gubernur Serinata tak keliru. Pasalnya, minyak jarak pagar mengandung asam lemak yang cukup tinggi. Itu sebabnya, minyak jarak dapat digunakan sebagai minyak goreng, dengan catatan zat yang bersifat racun seperti phorbol ester dan curcin terlebih dahulu dilhilangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar dapat digunakan sebagai bahan bakar kendaraan bermesin diesel, Puslit Bioteknologi ITB mampu menurunkan kadar asam lemak bebas (free fatty acid/FFA) hingga 0,077 persen. Dengan alat khusus buatan sendiri, para peneliti itu berhasil memproduksi minyak jarak murni tanpa penambahan zat apapun. Walau terbukti mumpuni sebagai bahan bakar mesin diesel statis (mesin industri), minyak jarak murni belum pernah diuji kemampuannya pada mesin diesel dinamis (mesin kendaraan bermotor).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui ekspedisi ini, para peneliti berharap mendapatkan sejumlah data, baik keunggulan maupun kelemahan dari minyak jarak murni. Mereka juga menguji konverter yang terpasang pada mesin kendaraan, salah satu fungsinya untuk menurunkan kekentalan minyak jarak murni. Seperti diberitakan pada Kompas, Jumat (14/7), hasil uji pascaperjalanan etape I Atambua-Kupang menempuh jarak 273,9 kilometer ditemukan, kendaraan bermesin Mitsubishi berbahan bakar komposisi 100 persen minyak jarak murni membutuhkan 29 liter (1 liter setara dengan 9,44 kilometer). Sedangkan yang berbahan bakar campuran solar-minyak jarak murni butuh 31 liter untuk jarak sama (1 liter: 31,5 liter).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Secara umum, kekurangan minyak jarak murni adalah kekentalannya yang masih tinggi untuk mesin diesel," kata Prabowo Kartoleksono dari PT Agraprana, pembuat konverter yang ikut ekspedisi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foto: Gubernur Nusa Tenggara Barat Drs. HL Serinata menyatakan kekagumannya terhadap minyak jarak murni usai mencoba mobil berbahan bakar minyak jarak 100 persen bersama Dr. Robert Manurung di halaman kantornya, Minggu (16/7). (Lambok Hutabarat/National Geographic Indonesia)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30383559-115306826109976705?l=jatropha-expedition.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/feeds/115306826109976705/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30383559&amp;postID=115306826109976705' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115306826109976705'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115306826109976705'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/2006/07/gubernur-ntb-mengagumi-minyak-jarak.html' title='Gubernur NTB Mengagumi Minyak Jarak Murni'/><author><name>penulis lepas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06858550528843840834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30383559.post-115306777820275778</id><published>2006-07-16T09:28:00.000-07:00</published><updated>2006-08-07T03:12:05.893-07:00</updated><title type='text'>Alam Flores Penggoda Juru Foto</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/983/3296/1600/Lambok%20di%20atas%20Mobil%20PLN-kecil.2.jpg"&gt;&lt;img style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/983/3296/320/Lambok%20di%20atas%20Mobil%20PLN-kecil.1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Alam Pulau Flores memang cantik. Pulau yang termasuk wilayah Nusa Tenggara Timur ini memiliki panorama yang mampu memanjakan mata. Tak heran, daerah ini menjadi surga para wisatawan. Di sela-sela perjalanan Jatropha Expedition 2006, para juru foto dan juru kamera dibuat sibuk mengabadikan gambar saat melintasi daerah yang sempat heboh akibat penemuan manusia Flores bertubuh kerdil pada beberapa waktu lalu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat mentari merekah di sudut angkasa, mereka girang bukan kepalang, namun bila kabut tebal menyelimuti panorama, rasa kecewa pun terlontar. Dengan nada berat, Lambok Hutabarat melaporkan kekecewaan tersebut. Ini terjadi sewaktu rombongan melintasi Desa Moni, kaki Gunung Kelimutu yang memiliki danau tiga warna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Jumat, (14/7), rombongan Jatropha Expedition 2006 melintasi Pulau Flores. Sejak tiba di Pelabuhan Larantuka pada pagi hari, rombongan langsung tancap gas untuk memenuhi target lokasi: Pelabuhan Labuanbajo, Kabupaten Manggarai. Dengan medan yang berat, jalan yang berliku dan berlubang serta rawan longsor, mereka terus merangsek. Tentu ini dilakukan usai memenuhi sambutan hangat para pemimpin daerah yang mereka lalui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Untuk dapat membuat gambar yang bagus, saya harus pintar-pintar atur strategi. Sebab, saya dan rekan-rekan dari KOMPAS, OTOMOTIF dan TV7 kerap tertinggal dari rombongan mobil uji,” kisah Lambok yang dikenal piawai sebagai mat kodak. Melihat kondisi yang kurang menguntungkan tersebut, mereka memutuskan untuk berusaha selalui di depan rombongan. Beberapa jepretan bisa didapat, tapi begitu kelar kerja, mereka pun harus kembali gigit jari, tertinggal sekian ratus meter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski demikian, Lambok berpantang menyerah. Usai menelan kecewa akan kabut tebal saat melintasi Kelimutu, pemuda Batak kelahiran Tasikmalaya itu seperti “balas dendam” saat mentari sore merekah di wilayah Manggarai, sebelum memasuki Labuanbajo. Lulusan Seni Rupa ITB ini keluar dari kabin, berpindah ke bagian belakang mobil. Tak peduli debu yang menampar wajah, ia sibuk mengatur fokus lensa, kecepatan dan bukaan rana. Di atas bak terbuka kendaraan milik PT PLN (Persero) itu, ia mengabadikan perjalanan yang indah. Flores, berasal dari bahasa Portugis "Cabo das Flores "(artinya Tanjung Bunga), telah berhasil membius naluri seni Lambok. Selamat bekerja kawan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Foto: Lambok Hutabarat di atas mobil PT PLN (Persero).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30383559-115306777820275778?l=jatropha-expedition.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/feeds/115306777820275778/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30383559&amp;postID=115306777820275778' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115306777820275778'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115306777820275778'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/2006/07/alam-flores-penggoda-juru-foto.html' title='Alam Flores Penggoda Juru Foto'/><author><name>penulis lepas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06858550528843840834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30383559.post-115305393711229356</id><published>2006-07-16T05:42:00.000-07:00</published><updated>2006-07-16T05:45:37.313-07:00</updated><title type='text'>Masyarakat NTT Berharap Banyak</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Kupang, Kompas - Masyarakat Provinsi Nusa Tenggara Timur menyatakan harapan besar mereka agar pengembangan energi alternatif, khususnya minyak jarak, turut meningkatkan kesejahteraan mereka.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;"Kami ingin berkontribusi dalam pengembangan energi terbarukan secara nasional, tetapi sangat penting hal itu turut menggerakkan ekonomi pedesaan dengan pengurangan kemiskinan dan pembukaan lapangan kerja. Ujungnya, layanan kesehatan membaik dan pendidikan pun semakin memadai," kata Wakil Gubernur NTT Frans Leburaya ketika melepas secara resmi Jatropha Expedition 2006 di halaman Kantor Bupati Belu, Rabu (12/7). Ekspedisi bahan bakar minyak jarak murni yang diprakarsai oleh Majalah National Geographic Indonesia (NGI) ini menempuh jarak 3.000 kilometer.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Upacara ini dihadiri pula staf ahli Menteri Negara Riset dan Teknologi Bidang Energi Terbarukan Martin Djamin, Bupati Belu Joachim Lopez, Bupati Timor Tengah Utara Gabriel Manek, dan unsur Muspida. Sementara, rombongan ekspedisi diikuti beberapa sponsor dan calon investor dari Indonesia dan Singapura. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Kepada kelompok tani yang turut hadir sebagai peserta upacara, Frans mendukung penanaman pohon jarak seluas 653 hektar di Desa Naisau, Kabupaten Belu, dari potensi 95.000 hingga 100.000 hektar di seluruh Belu. Akan tetapi, ia menekankan agar petani hanya menanami lahan kritis dan tidak produktif, sedangkan lahan produktif tetap harus ditanami padi, jagung, dan kacang-kacangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara khusus, seperti diungkapkan Joachim, pihaknya telah mencanangkan Gerakan Serentak Menanam Jarak (Gertak) pertengahan tahun 2006. Bahkan, kabupatennya bertekad menanami sekitar 100.000 hektar lahan dengan tanaman jarak pagar (Jantropha curcas) itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun potensi lahan kritis di wilayah NTT yang siap ditanami jarak pagar mencapai lebih dari 1,7 juta hektar. Seperti terlihat di sepanjang jalur Atambua-Kupang, sebagian besar hamparan perbukitan berbatu ditumbuhi semak dan rerumputan yang mulai mengering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara, berdasarkan penelitian awal di berbagai pusat penelitian, seperti Pusat Penelitian Bioteknologi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan Puslit Bioteknologi Institut Teknologi Bandung (ITB), jarak pagar yang tumbuh di kawasan NTT termasuk memiliki kandungan minyak tinggi antara 30-35 persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antusiasme dan harapan besar masyarakat NTT juga tampak ketika rombongan ekspedisi yang melintas diminta berhenti di tiga daerah, masing-masing di Desa Puna, Desa Tetaf, dan Desa Benlutu di wilayah Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Masyarakat di tiga desa tersebut menyambut dengan tarian tradisional dan menjamu rombongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara khusus, ratusan warga meminta agar segera disosialisasikan dan diimplementasikan pengembangan minyak jarak pagar. Bahkan, warga di Desa Tetaf, Kecamatan Amanuban Barat, TTS, berinisiatif menanam jarak di dua hektar lahan kritis dari rencana sekitar 40 hektar.&lt;br /&gt;Mereka menanam dengan cara tradisional, menancapkan batang-batang jarak tanpa daun pada hamparan lahan berumput. Mereka mengaku siap mengganti tanaman yang ada dengan bibit lain, bila memang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Prof Robert Manurung, peneliti Puslit Bioteknologi ITB yang juga pengembang minyak jarak murni dan diuji dalam ekspedisi ini, menyatakan kepada warga, bahwa investor sedang menjajaki serius pengembangan minyak jarak.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Pada kata sambutannya yang dibacakan staf ahli Martin Djamin, Menneg Ristek Kusmayanto Kadiman menyatakan, ekspedisi saat ini agar ditindaklanjuti dengan serangkaian penelitian seperti pencarian bibit unggul, proses pemurnian hingga pendistribusiannya. Sementara, pemerintah telah mencanangkan tahun 2010 penggunaan minyak nabati minimal 10 persen untuk skala nasional. Lima persen lainnya untuk energi terbarukan lain.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Berdasarkan uji pascaperjalanan etape I Atambua-Kupang menempuh jarak 273,9 kilometer ditemukan, kendaraan bermesin Mitsubishi berbahan bakar komposisi 100 persen minyak jarak murni membutuhkan 29 liter (1 liter setara dengan 9,44 kilometer). Sedangkan yang berbahan bakar campuran solar-minyak jarak murni butuh 31 liter untuk jarak sama (1 liter: 31,5 liter).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Hingga berita ini diturunkan, belum dihitung konsumsi bahan bakar kendaraan berbahan bakar 100 persen solar untuk jarak tempuh yang sama. "Secara umum, kekurangan minyak jarak murni adalah kekentalannya yang masih tinggi untuk mesin diesel," kata Prabowo Kartoleksono, Direktur Manajer Agraprana yang ikut ekspedisi ini. (DOT/KOR/GSA)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Sumber: KOMPAS Jumat, 14 Juli 2006&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30383559-115305393711229356?l=jatropha-expedition.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/feeds/115305393711229356/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30383559&amp;postID=115305393711229356' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115305393711229356'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115305393711229356'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/2006/07/masyarakat-ntt-berharap-banyak.html' title='Masyarakat NTT Berharap Banyak'/><author><name>penulis lepas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06858550528843840834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30383559.post-115288142159200885</id><published>2006-07-14T05:41:00.000-07:00</published><updated>2006-07-14T05:50:21.886-07:00</updated><title type='text'>Menembus Kabut Kelimutu</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/983/3296/1600/kabut%20kelimutu-TB.jpg"&gt;&lt;img style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/983/3296/320/kabut%20kelimutu-TB.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Dari Maumere, Kabupaten Sikka, rombongan Jatropha Expedition 2006 meneruskan perjalanan menuju Kabupaten Ende. Perjalanan darat antara Maumere – Ende menyajikan panorama alam yang indah dan amat memanjakan mata. Para mat kodak pun telah siap membidikkan lensa kamera. Terlebih, saat melihat peta, perjalanan akan melintasi Desa Moni, titik awal perjalanan menuju Gunung Kelimutu (1640 mdpl. Inilah salah satu lokasi wisata yang telah dikenal oleh wisatawan mancanegara. Pasalnya, Kelimutu memliki tiga danau warna yang berada di sekitar puncak. Ketiga memiliki kebiasaan unik, warnanya kerap berubah-ubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Moni adalah desa yang indah. Ia berada di sisi jalan raya dan sekitar 52 kilometer dari Ende. Desa ini termasuk wilayah Lio. Warganya berbahasa Ende. Mereka dikenal mahir membuat tenun ikat yang berharga cukup tinggi. Jeruk merupakan hasil utama pertanian daerah ini. Rombongan tak sempat mencari jeruk dan tenun ikat khas Moni, sebab mereka harus segera mencapai Pelabuhan Labuanbajo untuk menyeberang menuju Sape, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sayangnya, ketika kami melewati Moni, cuaca sedang berkabut. Kelimutu tak terlihat apa-apa, akhirnya kami batal mengunjungi danau tiga warna,” ujar Lambok Hutabarat dari National Geographic Indonesia dengan nada kecewa. Bahkan mereka sempat disambut hujan di Wolowaru, sebelum memasuki Moni. Padahal, sejak awal Lambok ingin mendapatkan gambar rombongan saat melintasi Kelimutu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan menuju Moni menempuh jarak sekitar 96 kilometer dari Maumere. Menurut Lambok, kondisi jalan begitu memperihatinkan. Di sana-sini terdapat lubang yang dapat membahayakan pengendara. Bahkan, di beberapa tempat terdapat titik longsor. Ia begitu berharap pihak pemerintah pusat mau mengenok kenyataan menyedihkan tersebut. Terlebih, wilayah Ende memiliki obyek wisata yang telah dikenal wisatawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rombongan tiba di Ende sekitar pukul 19:00 Wita. Usai santap malam, rombongan kembali dijadwalkan beramah tamah dengan Bupati Ende Drs. Paulinus Domi. Inilah sambutan hangat kesekian kali yang diterima rombongan. Dan dukungan pun terus bertambah. Utamanya, peran minyak jarak sebagai pengganti bahan bakar minyak, khususnya minyak tanah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Foto:&lt;/span&gt; Rombongan jatropha Expedition 2006 menembus kabut Kelimutu, sebelum mencapai Kota Ende, Jumat, (14/7). (Tantyo Bangun/National Geographic Indonesia)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30383559-115288142159200885?l=jatropha-expedition.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/feeds/115288142159200885/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30383559&amp;postID=115288142159200885' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115288142159200885'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115288142159200885'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/2006/07/menembus-kabut-kelimutu.html' title='Menembus Kabut Kelimutu'/><author><name>penulis lepas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06858550528843840834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30383559.post-115287866322828653</id><published>2006-07-14T05:01:00.000-07:00</published><updated>2006-07-14T05:07:12.633-07:00</updated><title type='text'>Menjadi Tamu Istimewa di Tiap Daerah</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/983/3296/1600/Serah%20Terima%20di%20Sikka.jpg"&gt;&lt;img style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/983/3296/320/Serah%20Terima%20di%20Sikka.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hari ketiga perjalanan, Jumat (14/7), rombongan Jatropha Expedition 2006 terus melaju. Usai diterima dengan hangat oleh Bupati Flores Timur Drs. Simon Hayon, tim dijamu santap siang oleh Asisten Satu Sekretaris Daerah Kabupaten Sikka Drs. L.B. Da Lopez pada pukul 12:50 Wita di Maumere. Lalu dilanjutkan dengan peninjuan mobil-mobil ekspedisi, terutama kendaraan berbahan bakar minyak jarak murni 100 persen. Sebelum kembali meneruskan perjalanan, Tantyo Bangun dari National Geographic Indonesia menyerahkan contoh minyak jarak murni kepada Drs. L.B. Da Lopez.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena Gubernur NTT telah memberikan edaran kepada setiap bupati di wilayah, jadi kami selalu mendapat kawalan dan sambutan secara resmi. Mereka sejak pagi telah menunggu kedatangan rombongan,” kisah Lambok Hutabarat, dari National Geographic Indonesia melalui percakapan jarak jauh. Estafet pengawalan dari pihak kepolisian paling kentara saat melintasi jalur Larantuka – Maumere. Sejak keluar dari dek KMP Cakalang hingga batas wilayah Kabupaten Flores Timur, rombongan mendapatkan kawalan lengkap dari pihak kepolisian setempat. Lalu memasuki wilayah Kabupaten Sikka, rombongan kembali mendapat kawalan dari kepolisian Sikka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seharusnya kami melakukan pertemuan dengan Bupati Sikka Tapi karena kami datang lebih awal, pertemuan tersebut terpaksa batal. Kami menjelaskan kepada Sekda bahwa tim akan melakukan perjalanan non stop 24 jam untuk mencapai Pelabuhan Labuanbajo,” demikian Lambok melaporkan dari wilayah Sikka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foto: Tantyo Bangun dari National Geographic Indonesia menyerahkan contoh minyak jarak murni kepada Drs. L.B. Da Lopez, Asisten Satu Sekretaris Daerah Kabupaten Sikka, di Maumere, Jumat (14/7) (Lambok Hutabarat/National Geographic Indonesia)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30383559-115287866322828653?l=jatropha-expedition.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/feeds/115287866322828653/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30383559&amp;postID=115287866322828653' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115287866322828653'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115287866322828653'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/2006/07/menjadi-tamu-istimewa-di-tiap-daerah.html' title='Menjadi Tamu Istimewa di Tiap Daerah'/><author><name>penulis lepas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06858550528843840834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30383559.post-115284926768064608</id><published>2006-07-13T20:54:00.000-07:00</published><updated>2006-07-14T07:11:18.036-07:00</updated><title type='text'>Etape Berikut: Larantuka - Labuanbajo</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/983/3296/1600/Menuju%20Maumere-Kecil.jpg"&gt;&lt;img style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/983/3296/320/Menuju%20Maumere-Kecil.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Hari ini, Jumat, (14/7), rombongan Jatropha Expedition 2006 berhasil merapat di Pelabuhan Penyeberangan Larantuka, Kabupaten Flores Timur (Flotim) pukul 06:00 WITA. Tim mendapat sambutan yang meriah dari Bupati Flotim, Drs. Simon Hayon, aparat setempat dan kawalan polisi. Usai acara penyambutan tim melanjutkan perjalanan menuju melalui Pelabuhan Penyeberangan Labuanbajo, untuk menuju Pelabuhan Sape, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Rencananya perjalanan ini akan dilakukan tanpa henti alias &lt;em&gt;non stop&lt;/em&gt;, tanpa berhenti menginap.&lt;br /&gt;Lambok Hutabarat yang melaporkan langsung selama perjalanan Larantuka - Labuanbajo mengisahkan, tim fotografer, media dan TV7 kerapkali tertinggal oleh rombongan mobil uji. Mereka harus jeli berstrategi agar mendapatkan sudut pengambilan gambar yang menarik disajikan bagi pemirsa dan pembaca. "Kadang kami berjalan lebih dahulu, tapi akhirnya harus tertinggal kembali. Padahal, pemandangan alam amat bagus dengan cuaca sangat cerah," kata Lambok. Nantikan kisah Lambok dalam cerita selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foto: Rombongan Jatropha Expedition 2006 Menuju Maumere, Jumat, (14/7) (Lambok Hutabarat/National Geographic Indonesia)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30383559-115284926768064608?l=jatropha-expedition.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/feeds/115284926768064608/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30383559&amp;postID=115284926768064608' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115284926768064608'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115284926768064608'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/2006/07/etape-berikut-larantuka-labuanbajo.html' title='Etape Berikut: Larantuka - Labuanbajo'/><author><name>penulis lepas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06858550528843840834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30383559.post-115279312623451255</id><published>2006-07-13T05:17:00.000-07:00</published><updated>2006-07-13T05:18:46.376-07:00</updated><title type='text'>Berharap Banyak Pada Minyak Jarak</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Harapan beralih ke bahan bakar nabati bukan saja milik para petinggi negeri ini. Masyarakat di pelosok wilayah juga menggantungkan asa yang sama. Fenomena ini muncul saat pameran mengenai tanaman jarak pagar di Lapangan Senggol, Atambua, Nusa Tenggara Timur, Selasa (11/7). Tanaman yang mereka kenal sejak lama itu ternyata mampu menggantikan peran minyak tanah sebagai bahan bakar kompor rumah tangga. Sebelumnya, mereka memakainya sebagai bahan bakar lentera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau memang bisa digunakan sebagai bahan bakar kompor tentu kami senang sekali. Sebab, kami sering kesulitan mendapatkan minyak tanah,” ucap Ibu Eti, salah seorang warga Atambua saat mengunjungi pameran. Kelangkaan itu biasanya mulai terjadi ketika memasuki bulan Juli atau Agustus setiap tahunnya. “Di sini harga minyak tanah bisa mencapai Rp. 3.000 ketika terjadi kelangkaan,” tambah Ibu Eti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat yang datang ke pameran mendapatkan penjelasan dari Louis Daniel dari Pusat Penelitian Bioteknologi Institut Teknologi Bandung mengenai pengolahan minyak jarak murni sebagai bahan bakar kompor dan kendaraan mesin diesel. “Alat pengolah ini hanya digunakan untuk mengolah minyak jarak yang akan dipakai sebagai bahan bakar mobil. Untuk minyak jarak yang kita pakai di kompor tak perlu memakai alat ini,” papar Louis seperti disaksikan puluhan warga yang datang pada sore yang cerah itu. Masyarakat pun dapat melakukannya sendiri di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minyak jarak yang dipakai sebagai bahan bakar kompor cukup dicampurkan dengan minyak tanah. Komposisinya, dua liter minyak jarak dengan satu liter minyak tanah. Sebagai buktinya, Louis segera memeragakan proses pencampuran ini dan memakainya sebagai bahan bakar kompor. “Wah, kalau begini masyarakat tentu akan senang sekali, sebab kami dapat berhemat minyak tanah,” tukas Ibu Eti berseri-seri. Ia pun membawa bekal minyak jarak untuk diuji coba sebagai bahan bakar kompor di rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30383559-115279312623451255?l=jatropha-expedition.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/feeds/115279312623451255/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30383559&amp;postID=115279312623451255' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115279312623451255'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115279312623451255'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/2006/07/berharap-banyak-pada-minyak-jarak.html' title='Berharap Banyak Pada Minyak Jarak'/><author><name>penulis lepas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06858550528843840834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30383559.post-115278730204982895</id><published>2006-07-13T03:25:00.000-07:00</published><updated>2006-07-13T03:51:31.166-07:00</updated><title type='text'>Menyalami Sang Nakhoda</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/983/3296/1600/Di%20TTS.jpg"&gt;&lt;img style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/983/3296/320/Di%20TTS.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Di kala melayari Laut Sawu yang tenang, rombongan Jatropha Expedition 2006 diperbolehkan memasuki ruang kemudi KMP Cakalang. B. Prabowo dari PT Agraprana - mewakili pimpinan ekspedisi, Tantyo Bangun yang tengah istirahat lantaran terkena gangguan pencernaan - secara simbolis menyerahkan bingkisan tanaman jarak pagar kepada mualim dan kapten kapal. Nampaknya, dukungan publikasi dari berbagai media massa dan kerja sama dengan sejumlah pemerintah daerah, kabar pengujian kemampuan minyak jarak murni telah tersiar ke mana-mana. Itu sebabnya, rombongan ini selalu disambut antusiasme tinggi dari masyarakat desa atau kota yang dilalui dalam perjalanan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lambok Hutabarat dari National Geographic Indonesia sempat bercerita, bagi warga Nusa Tenggara Timur, tanaman jarak pagar bukanlah barang baru. Mereka telah sejak lama menggunakan minyak jarak sebagai bahan bakar alat penerangan. Namun, mereka belum mengetahui bahwa minyak jarak pun dapat digunakan sebagai bahan bakar kendaraan. Dan decak kagum pun terlontar saat melihat mesin mobil yang menggunakan 100 persen minyak jarak murni sebagai bahan bakarnya. "Waktu di pompa bensin, petugasnya sempat bercerita seperti itu. Tetapi dia baru tahu ternyata minyak jarak bisa dipakai sebagai bahan bakar mobil," tukas Lambok yang tak pernah berhenti membidikkan kamera digital SLR-nya. Wah, seru juga ya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30383559-115278730204982895?l=jatropha-expedition.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/feeds/115278730204982895/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30383559&amp;postID=115278730204982895' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115278730204982895'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115278730204982895'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/2006/07/menyalami-sang-nakhoda.html' title='Menyalami Sang Nakhoda'/><author><name>penulis lepas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06858550528843840834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30383559.post-115278632376544250</id><published>2006-07-13T02:45:00.000-07:00</published><updated>2006-07-13T03:25:23.860-07:00</updated><title type='text'>Hasil Uji Sementara</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/983/3296/1600/Tinjau%20Mobil.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/983/3296/320/Tinjau%20Mobil.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Sebelum dimasukkan ke dalam dek KMP Cakalang, B. Prabowo dari PT Agraprana sempat melakukan pengecekan terhadap mobil-mobil ekspedisi. Sejauh ini, mereka telah menempuh jarak sejauh 274 kilometer. Pada kendaraan diesel yang menggunakan 100 persen minyak jarak murni telah menghabiskan minyak sebanyak 29 Liter. Bila kita tarik perbandingan pemakaian, muncullah angka 1: 9,4.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk penggunaan bahan bakar campuran dengan komposisi 50 persen minyak jarak murni dengan 50 persen minyak solar telah menghabiskan minyak jarak sebanyak 31,5 Liter. Setelah dihitung secara kasar, Prabowo menyebut angka perbandingan 1:8,7. Lantaran mobil-mobil harus segera dimasukkan ke kapal, Prabowo dan tim Agraprana melakukan pengukuran. Terlebih, kondisi dek kapal tak memungkinkan. Maklum, para penumpang juga menjejali KMP Cakalang yang masih baru itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bagian mesin tak ditemui kendala atau masalah apapun. Begitu pula dengan kinerja konverter yang memuaskan rombongan. Pengujian emisi baru akan dilakukan pada Jatropha Festival di Pantai Sanur, Denpasar, Bali. Lha kenapa begitu? “Kami tak mungkin membawa alat pengukur emisi dalam perjalanan ini. Karena itu pengukuran kami pusatkan di Sanur,” tukas Prabowo, melalui percakapan telepon seluler sebelum bertolak menuju Larantuka. Penasaran dengan hasil uji emisi? Ikuti terus perkembangan kisah ekspedisi ini. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;foto: rombongan Ekspedisi Jatropha diterima oleh Gubernur NTT Piet A Tallo beserta dua mantan Gubernur NTT Herman Musakabe dan Fernandez. Muspida NTT memeriksa mesin mobil yang menggunakan 100% minyak jarak murni.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30383559-115278632376544250?l=jatropha-expedition.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/feeds/115278632376544250/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30383559&amp;postID=115278632376544250' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115278632376544250'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115278632376544250'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/2006/07/hasil-uji-sementara.html' title='Hasil Uji Sementara'/><author><name>penulis lepas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06858550528843840834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30383559.post-115278274900707943</id><published>2006-07-13T01:31:00.000-07:00</published><updated>2006-07-13T02:41:12.840-07:00</updated><title type='text'>Berlayar Menuju Larantuka</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/983/3296/1600/Mobil%20di%20feri.0.jpg"&gt;&lt;img style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/983/3296/320/Mobil%20di%20feri.0.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Usai melakukan pertemuan dengan Gubernur Nusa Tenggara Timur Piet A. Tallo, Kamis, (13/7) rombongan Jatropha Expedition 2006 kembali melanjutkan perjalanan menuju Larantuka, ibu kota Kabupaten Flores Timur. Seluruh kendaraan yang dipakai telah dimasukkan ke dalam dek kapal motor penumpang (KMP) Cakalang dan telah meninggalkan Pelabuhan Bolok, Kupang pada pukul 16:50 WITA. Pelayaran melalui Laut Sawu dan Laut Flores ini diperkirakan memakan waktu 18 jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena kapal ini masih gres, menurut salah seorang ABK waktu tempuhnya bakal lebih singkat. Mudah-mudahan, kami bisa sampai di Laratuka sekitar pukul 06:00 (WITA),” ujar Lambok Hutabarat, awak National Geographic Indonesia yang mengikuti ekspedisi ini dari Atambua hingga Jakarta melalui sambungan jarak jauh IM-3 Indosat. Awalnya, kapal direncanakan bertolak dari Pelabuhan Bolok pada pukul 15:00 namun keberangkatan baru dapat dilakukan sekitar dua jam kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengusir rasa bosan, Lambok menjelajahi kapal yang masih mulus ini. Dengan determinasi tinggi, ia membidikkan kamera digital SLR-nya ke setiap penjuru. “Di bagian dek bawah diperuntukkan mobil dengan tiga jalur (termasuk mobil-mobil ekspedisi) tapi juga dijejali orang,” kata Lambok yang kadangkala bermain "perang-perangan" di kala senggang. Dari situ, ia menapak anak tangga menuju kabin penumpang kelas ekonomi, yang juga dipenuhi penumpang. Kapasitasnya yang sekitar 70 tempat duduk telah habis diduduki. Bahkan, ada penumpang yang terpaksa berdiri tak kebagian kursi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas bagaimana kabar anggota tim? Ah, usah khawatir. Seluruh rombongan, termasuk pimpinan ekspedisi, Tantyo Bangun; Robert Manurung; B. Prabowo; Wawan Djuanda; Roy dan Wilson, tengah menikmati angin sepoi-sepoi yang diembuskan mesin pendingin udara dalam kabin penumpang kelas VIP. “Kabin ini berada di lantai dua,” ucap Lambok sambil menambahkan panjang kapal anyar ini tak lebih dari 100 meter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat di Kupang, Lambok sempat bepergian ke sebuah toko cinderamata. Rupanya, ia ingin memberi kejutan bagi teman-teman di kantor yang kebagian tugas menggawangi berita-berita ekspedisi. Di toko ini, kebanyakan dijual barang-barang khas yang berbahan dasar tenunan masyarakat. Satu hal yang disayangkan, pantai karang di Pelabuhan Bolok, menurut Lambok, kurang dapat dijual sebagai obyek wisata. “Paling-paling hanya bisa jadi tempat kongko saja,” sebut Lambok menutup percakapan lantaran tanda klakson kapal Cakalang telah dibunyikan sang nahkoda. Selamat berlayar kawan! &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Foto: Mobil 100 persen minyak jarak murni telah dimasukkan di dalam dek KMP Cakalang menuju Larantuka, Kabupaten Flores Timur, 13 Juli 2006. (Tantyo Bangun/National Geographic Indonesia)  &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30383559-115278274900707943?l=jatropha-expedition.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/feeds/115278274900707943/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30383559&amp;postID=115278274900707943' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115278274900707943'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115278274900707943'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/2006/07/berlayar-menuju-larantuka.html' title='Berlayar Menuju Larantuka'/><author><name>penulis lepas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06858550528843840834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30383559.post-115277858152410441</id><published>2006-07-13T01:13:00.000-07:00</published><updated>2006-07-13T01:16:21.706-07:00</updated><title type='text'>Bersua Orang Nomor Satu Nusa Tenggara Timur</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/983/3296/1600/Gubernur%20NTT.jpg"&gt;&lt;img style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/983/3296/320/Gubernur%20NTT.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Dukungan kuat terhadap uji kemampuan minyak jarak murni sebagai bahan bakar kendaraan bermesin diesel terlontar dari Gubernur Nusa Tenggara Timur, Piet A. Tallo saat menerima rombongan Jatropha Expedition 2006 di halaman kantornya, Kamis, (13/7), pukul 09:00 WITA. Ia berharap tanaman jarak pagar dapat menggantikan peran bahan bakar minyak yang harganya terus melambung tinggi dalam waktu dekat serta mampu menggerakan perekonomian masyarakat. Sambutan resmi yang berlangsung meriah dan hangat ini disaksikan pula masyarakat NTT yang sejak pagi telah memenuhi halaman kantor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesempatan yang sama perwakilan PT Bio Chem Prima International menyerahkan contoh minyak jarak murni kepada Gubernur Tallo. “Kami telah siap menampung biji jarak pagar dari kebun masyarakat. Kami juga sedang membangun pabrik pengolahan minyak jarak murni di daerah Bolok (yang letaknya tak begitu jauh dari Kupang),” ujar Roy dari PT Bio Chem menanggapi harapan Gubernur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai menerima rombongan, gubernur melihat mesin dan kendaraan Mitsubishi Strada yang memakai 100 persen minyak jarak murni. Ia juga menyaksikan penggunaan konverter yang terpasang pada mesin kendaraan tersebut. Ini tentu saja menarik perhatian, sebab kita tak perlu melakukan perubahan mesin dalam penggunaan minyak jarak murni sebagai bahan bakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foto: Gubernur NTT Piet A Tallo melihat tangki dan minyak jarak murni di belakang mobil uji coba minyak jarak 100 persen.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30383559-115277858152410441?l=jatropha-expedition.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/feeds/115277858152410441/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30383559&amp;postID=115277858152410441' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115277858152410441'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115277858152410441'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/2006/07/bersua-orang-nomor-satu-nusa-tenggara.html' title='Bersua Orang Nomor Satu Nusa Tenggara Timur'/><author><name>penulis lepas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06858550528843840834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30383559.post-115270459524059326</id><published>2006-07-12T04:42:00.000-07:00</published><updated>2006-07-13T00:33:37.383-07:00</updated><title type='text'>Bermalam di Kupang</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/983/3296/1600/Di%20Pantai%20Kupang.jpg"&gt;&lt;img style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/983/3296/320/Di%20Pantai%20Kupang.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Usai satu hari menempuh perjalanan darat dari Atambua, Kabupetan Belu, tim Jatropha Expedition 2006 memutuskan bermalam di Kupang, ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur. Di sini, tim akan melakukan pengecekan kondisi mesin, minyak jarak murni, konverter dan faktor-faktor pendukung lainnya. B. Prabowo dari PT. Agraprana akan melakukan pencatatan atas kemampuan dan unjuk kerja dari konverter yang terpasang di mesin kendaraan berbahan bakar minyak jarak murni. Sedangkan para peneliti dari Pusat Penelitian Bioteknologi ITB akan menganalisa kemampuan minyak jarak murni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pendukung tim juga akan melakukan koordinasi untuk menempuh etape kedua, Kupang - Lombok. Rencananya, menurut laporan Tantyo Bangun, esok hari, Kamis 13 Juli, pada pukul 09:00 WITA, tim akan menemui Gubernur Nusa Tenggara Timur, Piet A. Tallo SH di kantornya. Sebelum itu, mereka akan memakai Isuzu ELF milik PT PLN (Persero) sebagai kendaraan uji coba yang akan diisi biodiesel dengan komposisi: 25 persen minyak jarak murni, 25 persen olein dan sisanya minyak solar.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.rapidcounter.com/signup.php" target="_top"&gt;&lt;/a&gt;&lt;script src="http://counter.rapidcounter.com/script/1152705116"&gt;&lt;/script&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Foto: Mitsubishi Strada berbahan bakar minyak jarak murni (warna merah) tengah di parkir di tepi pantai Kupang, sebagai tanda berakhirnya etape Atambua - Kupang, 12 Juli 2006 (Lambok Hutabarat/National Geographic Indonesia) &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30383559-115270459524059326?l=jatropha-expedition.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/feeds/115270459524059326/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30383559&amp;postID=115270459524059326' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115270459524059326'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115270459524059326'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/2006/07/bermalam-di-kupang.html' title='Bermalam di Kupang'/><author><name>penulis lepas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06858550528843840834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30383559.post-115269551655196086</id><published>2006-07-12T02:06:00.000-07:00</published><updated>2006-07-12T02:43:22.106-07:00</updated><title type='text'>Jarak Pagar Telah Lama Dikenal Warga</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/983/3296/1600/Desa%20Benlutu.jpg"&gt;&lt;img style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/983/3296/320/Desa%20Benlutu.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Tim Jatropha Expedition memasuki Kota Soe, ibu kota Kabupaten Timor Tengah Selatan sekitar pukul 15:20 WITA. Perjalanan berlangsung lancar dengan cuaca cerah. Sebelum memasuki kota ini, tim mendapat sambutan secara adat yang ketiga kali usai dilepas dari Kantor Pemerintahan Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur pada pukul 10:00 WITA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selama perjalanan kami telah menyaksikan sendiri beberapa desa telah melakukan penanaman jarak pagar. Namun, perlu dipikirkan sosialisasi bibit yang unggul, cara tanam dan budidaya yang benar serta strategi lainnya,” ucap Tantyo Bangun. Pimpinan ekspedisi melalui percakapan jarak jauh hasil dukungan IM-3 Indosat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti diketahui, antusiasme warga Nusa Tenggara timur terhadap tanaman jarak pagar memang termasuk tinggi. Sejak lama, mereka telah menggunakan minyak jarak sebagai bahan bakar alat penerangan di desa. Menurut drg Gregorius, Wakil Bupati Belu, pembuktian ilmiah yang dihasilkan dari ekspedisi ini amat berguna untuk menyakinkan warga bahwa minyak jarak murni berpotensi sebagai bahan bakar yang ramah lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di wilayah Belu, terdapat kebun seluas 20 hektar di Kecamatan Sasitamean. “Kami telah menanam biji yang kami dapat dari tingkat provinsi,” ujar drg Gregorius. Pada 17 kecamatan di wilayah administrasi Belu, masing-masing daerah telah memiliki lahan yang ditanami jarak pagar. Malahan, pada beberapa kecamatan, seperti Raihat, Kobalima dan Raimanuk memiliki hutan jarak. Adanya kegairahan pemanfaatan minyak dari biji jarak pagar diharapkan mampu menambah tingkat pendapatan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum meninggalkan wilayah Timor Tengah Selatan, rombongan dilepas dengan upacara adat di di Desa Benlutu, Kecamatan Batu Putih pada pukul 15:45. Mereka melepas dengan tarian tradisional, Tari Giring-giring. Doa mereka mengiringi seluruh tim hingga akhir etape nanti. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Foto: Tim Jatropha Expedition 2006 dilepas oleh warga Timor Tengah Selatan dengan tarian adat, Tari Giring-giring di Desa Benlutu, Kecamatan Batu Putih pada pukul 15:45 WITA, 12 Juli 2006.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30383559-115269551655196086?l=jatropha-expedition.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/feeds/115269551655196086/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30383559&amp;postID=115269551655196086' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115269551655196086'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115269551655196086'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/2006/07/jarak-pagar-telah-lama-dikenal-warga.html' title='Jarak Pagar Telah Lama Dikenal Warga'/><author><name>penulis lepas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06858550528843840834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30383559.post-115269394393914263</id><published>2006-07-12T01:38:00.000-07:00</published><updated>2006-07-12T01:50:52.866-07:00</updated><title type='text'>Sambut dan Lepas Secara Adat</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/983/3296/1600/Desa%20Puna-TTS.0.jpg"&gt;&lt;img style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/983/3296/320/Desa%20Puna-TTS.0.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Usai dilepas dari halaman Kantor Pemerintahan Kabupaten Belu, rombongan Jatropha Expedition 2006 mendapat sambutan meriah ketika memasuki wilayah Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) dan Timor Tengah Selatan (TTS). Tim sempat beristirahat di Kefa, TTU sekitar pukul 12:00 WITA seraya melalukan pengecekan ringan terhadap mesin kendaraan yang digunakan. Dengan kecepatan rata-rata 60 kilometer per jam, tim diperkirakan akan mencapai Kupang sekitar pukul 17:00 WITA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saat memasuki wilayah TTS, kami disambut upacara adat oleh warga Desa Puna, Kecamatan Pulen,” kisah Tantyo Bangun, pemimpin ekspedisi. Di Desa ini, tim memberikan penjelasan mengenai tanaman jarak pagar dan masyarakat menyaksikan kendaraan yang berbahan bakar 100 persen minyak jarak murni secara langsung. Bahkan, mereka dapat mencium asapnya yang kerap dijuluki “si pengundang lapar”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum meneruskan perjalanan, Tantyo Bangun, Wilson dan Roy dari PT Bio Chem Prima International serta Robert Manurung dari Pusat Penelitian Bioteknologi ITB mendapat kalungan selendang dari warga Puna. Mereka juga dibekali madu sebagai penambah stamina selama di perjalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di desa kedua, Tetaf, kecamatan Amanuba Barat, tim melihat kebun jarak pagar yang ditanam oleh masyarakat. Kebun seluas dua hektar ini berada di pinggir jalan. Menurut informasi warga, bibit jarak pagar yang mereka tanam berasal dari stek yang mereka lakukan sendiri. Itu sebabnya, PT Bio Chem Prima International, salah satu pendukung ekspedisi, berencana mengganti bibit tersebut dengan bibit unggul yang mereka hasilkan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Foto: Tim Jatropha Expedition 2006 disambut secara adat di Desa Puna, Kec Pulen, TTS. (Tantyo Bangun/National Geographic Indonesia)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30383559-115269394393914263?l=jatropha-expedition.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/feeds/115269394393914263/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30383559&amp;postID=115269394393914263' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115269394393914263'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115269394393914263'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/2006/07/sambut-dan-lepas-secara-adat.html' title='Sambut dan Lepas Secara Adat'/><author><name>penulis lepas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06858550528843840834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30383559.post-115269081088005415</id><published>2006-07-12T00:12:00.000-07:00</published><updated>2006-07-12T01:38:16.806-07:00</updated><title type='text'>Etape Satu Atambua – Kupang Dimulai</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/983/3296/1600/Jatropha-Atambua.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/983/3296/320/Jatropha-Atambua.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Pada hari ini, 12 Juli, pukul 10:00 WITA, rombongan Jatropha Expedition 2006 memulai etape satu Atambua – Kupang dari halaman Kantor Pemerintahan Kabupaten Belu, Atambua, Nusa Tenggara Timur. Pelepasan tim yang dilakukan oleh &lt;strong&gt;Staf Ahli Menteri Negara Riset dan Teknologi bidang Energi Terbarukan, Prof Dr Ir Martin Djamin MSc, Wakil Gubernur NTT Drs.Frans Lebu Raya dan Bupati Belu, Joachim Lopez&lt;/strong&gt; ini mendapat sambutan meriah dari masyarakat Belu. Tua-muda, lelaki-perempuan, turut memberangkatkan tim ini. Dan tentunya mereka mengantarkan doa agar tim diberi kelancaran dan keselamatan selama menempuh perjalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak pagi, masyarakat telah memenuhi kantor kabupaten untuk menyaksikan persiapan keberangkatan. Pada hari sebelumnya, mereka pun menyaksikan peragaan minyak jarak murni sebagai bahan bakar nabati untuk menggantikan bahan bakar minyak. Bukan hanya untuk bahan bakar kendaraan mesin diesel, tetapi juga dapat digunakan sebagai bahan bakar kompor dan petromaks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut laporan Tantyo Bangun, pemimpin redaksi National Geographic Indonesia, sebelum melepas rombongan, Prof. Martin Djamin, Wagub NTT Drs. Frans Lebu Raya dan Bupati Belu Joachim Lopez melakukan penanaman jarak pagar (Jatropha curcas) di halaman kantor kabupaten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat kegiatan seperti itu, diharapkan kepercayaan masyarakat terhadap potensi jarak pagar, khususnya minyak jarak muni, makin bertambah tinggi. Sebab, mereka telah menyaksikan sendiri dukungan pemerintah dan pengujian minyak jarak murni sebagai bahan bakar nabati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foto: Para ibu turut menghadiri acara pelepasan rombongan Jatropha Expedition 2006, di halaman kantor Pemerintahan Kabupaten Belu, Atambua, Nusa Tenggara Timur. (Tantyo Bangun/National Geographic Indonesia)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30383559-115269081088005415?l=jatropha-expedition.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/feeds/115269081088005415/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30383559&amp;postID=115269081088005415' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115269081088005415'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115269081088005415'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/2006/07/etape-satu-atambua-kupang-dimulai.html' title='Etape Satu Atambua – Kupang Dimulai'/><author><name>penulis lepas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06858550528843840834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30383559.post-115261285675360383</id><published>2006-07-11T03:08:00.000-07:00</published><updated>2006-07-11T05:01:59.603-07:00</updated><title type='text'>Menapak Atambua, Menyapa Soe</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/983/3296/1600/Rombongan%20ekspedisi%20menuju%20Atambua.0.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/983/3296/320/Rombongan%20ekspedisi%20menuju%20Atambua.0.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/983/3296/1600/Rombongan%20ekspedisi%20menuju%20Atambua.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Usai melakukan penerbangan Jakarta – Kupang selama empat jam, hari ini, Selasa, 11 Juli 2006, rombongan tim Jatropha Expedition 2006 melanjutkan perjalanan menuju Kota Atambua, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. Perjalanan darat tersebut diperkirakan akan memakan waktu sekitar sembilan jam. “Tim akan tiba di Atambua sekitar pukul 21:00 WITA,” ujar Tantyo Bangun, pemimpin redaksi National Geographic Indonesia sekaligus pemimpin ekspedisi melalui sambungan jarak jauh hasil dukungan kartu pra bayar IM-3 Indosat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat tiba di Kupang, ibu kota Provinsi NTT, rombongan media yang mengikuti ekspedisi ini (Harian Kompas, Tabloid OTOMOTIF, TV 7, Radio Kissora Kupang, RRI Mataram, Timor Express dan Pos Kupang) dijemput oleh tiga mobil dari PT PLN (Persero) dan satu mobil milik PT Perkebunan Nusantara VIII. Kelompok ini berada di depan, memimpin iring-iringan menuju Atambua. Rombongan lainnya, staf dari Kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi, Pemerintah Daerah NTT, Pusat Penelitian Bioteknologi ITB, PT Bio Chem Prima International dan PT Agraprana menyusul satu jam di belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama perjalanan darat dari Kupang menuju Atambua, tim melewati kota-kota di tiga kabupaten: Kupang, Timor Tengah Selatan dan Timor Tengah Utara. Di Kabupaten Kupang, melampaui aspal mulus kota Baubau dan Camplong lalu masuk Timor Tengah Selatan melalui Bokong dan Benlutu, sebelum menyapa kota Soe, ibu kota kabupaten TTS. Tim sempat beristirahat sejenak saat melewati jembatan Sungai Noelmina, yang letaknya tak begitu jauh dari Soe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lepas dari Soe, tim menuju Nikiniki dan memasuki wilayah Timor Tengah Utara melalui Lali dan Uhala serta melewati jembatan Sungai Mun, sebelum tiba di Kofemanu, ibu kota Kabupaten TTU. Setelah itu perjalanan dilanjutkan melalui Kiupasan dan Ulolek lalu memasuki wilayah Belu melalui kota Nenuk dan tiba di Atambua, lokasi pemberangkatan ekspedisi yang akan menempuh jarak sekitar 3.000 kilometer sejak 12 – 20 Juli mendatang,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foto: Tim ekspedisi tengah beristirahat di atas jembatan Sungai Noelmina dalam perjalanan darat menuju Kota Atambua, Kabupaten Belu (Tantyo Bangun/National Geographic Indonesia)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30383559-115261285675360383?l=jatropha-expedition.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/feeds/115261285675360383/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30383559&amp;postID=115261285675360383' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115261285675360383'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115261285675360383'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/2006/07/menapak-atambua-menyapa-soe.html' title='Menapak Atambua, Menyapa Soe'/><author><name>penulis lepas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06858550528843840834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30383559.post-115260753957839194</id><published>2006-07-11T01:42:00.000-07:00</published><updated>2006-07-17T03:06:55.033-07:00</updated><title type='text'>Kadar Asam Lemak Bebas Terus Turun</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Sesaat Jatropha Expedition 2006 akan dimulai dari Atambua, Nusa Tenggara Timur, ada satu kabar baik yang terembus dari Pusat Penelitian Bioteknologi ITB. Louis Daniel, salah seorang staf mengatakan, timnya berhasil menekan &lt;strong&gt;kadar asam lemak bebas (&lt;em&gt;free fatty acid&lt;/em&gt;/FFA) dalam minyak jarak murni hingga tinggal menjadi 0,077 persen&lt;/strong&gt; dan &lt;strong&gt;kandungan fosfor sebesar 0,35 ppm&lt;/strong&gt;. Sebelumnya, pengukuran kadar FFA di laboratorium masih menunjukkan angka 0,3 persen. Tentu ini mempertajam rekor yang telah mereka miliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prestasi ini tentu makin membuktikan bahwa untuk menghilangkan kadar FFA yang tinggi dalam minyak jarak murni tak lagi dibutuhkan zat tambahan. Seperti diketahui, metanol telah digunakan sebagai satu-satunya penghilang FFA dan pengubah trigliserida menjadi metil ester (biodiesel). Proses penambahan metanol yang lebih dikenal dengan istilah esterifikasi ini juga mengubah viskositas minyak jarak menjadi lebih encer, sehingga lebih mudah terbakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat disayangkan, penggunaan metanol untuk menghilangkan FFA pada hasil perasan biji Jatropha Curcas itu ikut menghilangkan banyak sekali keunggulan jarak. Selain menjadi bergantung pada zat tambahan, “juga mesti ada peralatan tersendiri dan menyebabkan setiap produsen minyak jarak mesti selalu menyediakan metanol. Tentunya ini memperpanjang proses pengolahan minyak jarak, dan harga jual minyaknya pun bertambah mahal dengan sendirinya,” tutur Dr. Robert Manurung, Kepala Pusat Penelitian Bioteknologi ITB. Akibatnya, inti keutamaan minyak jarak pagar: Murah, mudah dibuat, dan bebas dari polutan berbahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30383559-115260753957839194?l=jatropha-expedition.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/feeds/115260753957839194/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30383559&amp;postID=115260753957839194' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115260753957839194'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115260753957839194'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/2006/07/kadar-asam-lemak-bebas-terus-turun.html' title='Kadar Asam Lemak Bebas Terus Turun'/><author><name>penulis lepas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06858550528843840834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30383559.post-115260671330187024</id><published>2006-07-11T01:27:00.000-07:00</published><updated>2006-07-11T01:31:53.313-07:00</updated><title type='text'>Kompor Minyak Jarak Murni</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/983/3296/1600/KomporJarak-kecil.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/983/3296/320/KomporJarak-kecil.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Harapan minyak jarak murni sebagai bahan bakar alternatif nampaknya pantas dikedepankan. Sebab, bukan saja proses pengolahan yang mudah dan murah serta dapat dibuat berbasiskan masyarakat, produk hasil pengolahan biji jarak pagar (&lt;em&gt;Jatropha curcas&lt;/em&gt;) ini dapat pula dipakai sebagai bahan bakar kompor rumah tangga dan alat penerangan masyarakat, seperti petromaks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Louis Daniel dari Pusat Penelitian Bioteknologi ITB mengatakan, bila digunakan sebagai bahan bakar kompor, minyak jarak murni dapat dicampur dengan minyak tanah. Komposisinya, 75 persen minyak jarak murni dengan sisanya minyak tanah. Caranya pun tak rumit, semudah membalikkan telapak tangan kita. Tinggal campur, aduk lalu langsung masukkan ke dalam tangki kompor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk bahan bakar petromaks, campuran minyak jarak murni dengan minyak tanah memiliki komposisi: 35 berbanding 65. Caranya juga sama dengan campuran bahan bakar kompor tadi dan dapat langsung digunakan. Mudah saja bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pameran jarak pagar yang digelar di Lapangan Senggol, Alun-alun Kota Atambua, para peneliti memeragakan cara penggunaan minyak jarak murni sebagai bahan bakar kompor rumah tangga dan alat penerangan masyarakat. Bahkan, alat penerangan pameran memakai lentera yang menggunakan minyak jarak murni sebagai bahan bakarnya. Anda tertarik mencobanya?&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30383559-115260671330187024?l=jatropha-expedition.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/feeds/115260671330187024/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30383559&amp;postID=115260671330187024' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115260671330187024'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115260671330187024'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/2006/07/kompor-minyak-jarak-murni.html' title='Kompor Minyak Jarak Murni'/><author><name>penulis lepas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06858550528843840834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30383559.post-115260327263078921</id><published>2006-07-11T00:30:00.000-07:00</published><updated>2006-07-11T00:34:32.630-07:00</updated><title type='text'>Makna Ekspedisi Bagi Belu</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/983/3296/1600/BELU-kecil].jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/983/3296/320/BELU-kecil%5D.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Bagi Kabupaten Belu, Jatropha Expedition 2006 memiliki beberapa makna penting. Pemerintah daerah bertopografi perbukitan dan pegunungan ini memandang pemberangkatan yang diawali di Atambua, ibukota kabupaten, merupakan bukti bahwa wilayah perbatasan memiliki tingkat keamanan yang baik. “Adanya kegiatan nasional seperti ini, tentu akan membuktikan keamanan yang kondusif pada wilayah perbatasan,” ujar drg. Gregorius Mau Bili F. DPPH, Wakil Bupati Belu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna kedua, ekspedisi yang melakukan serangkaian pengujian ilmiah dan empiris terhadap minyak jarak murni (pure jatropha oil) pada kendraan bermotor mesin diesel itu akan mendukung pemakaian bahan bakar alternatif dan perekonomian rakyat. Sejak puluhan tahun lalu, rakyat Belu telah menggunakan minyak jarak sebagai bahan bakar alat penerangan tradisional. Menurut drg Gregorius, pembuktian ilmiah tersebut amat untuk menyakinkan warga Belu bahwa minyak jarak murni berpotensi sebagai bahan bakar yang ramah lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, Belu telah melakukan penanaman seluas 20 hektar di Kecamatan Sasitamean. “Kami telah menanam biji yang kami dapat dari tingkat provinsi,” ujar drg Gregorius. Pada 17 kecamatan di wilayah administrasi Belu, masing-masing daerah telah memiliki lahan yang ditanami jarak pagar. Malahan, pada beberapa kecamatan, seperti Raihat, Kobalima dan Raimanuk memiliki hutan jarak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adanya kegairahan pemanfaatan minyak dari biji jarak pagar diharapkan mampu menambah tingkat pendapatan masyarakat. Pada tahun 1998 pendapatan per kapita Kabupaten Belu sebesar Rp. 1.044.435 sedangkan tahun 2000 mencapai Rp 1.258.351. Dengan demikian, pendapatan per kapita Kabupaten Belu mengalami pertumbuhan sebesar 17,95 persen.&lt;br /&gt;Kabupaten Belu memiliki prioritas pembangunan yang diletakkan pada: peningkatan kualitas sumber daya manusia, pembangunan ekonomi rakyat, pemantapan kelembagaan dan pengembangan pariwisata. Keempat program tersebut diberi nama Catur Program Pembangunan Kabupaten Belu. Hal ini merupakan penjabaran dari TIGA BATU TUNGKU PEMBANGUNAN NUSA TENGGARA TIMUR. Melalui Catur Program tersebut, Pemerintah Kabupaten belu berharap dapat mewujudkan aspirasi: pembangunan yang berorientasi kepada kesejahteraan seluruh masyarakat. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30383559-115260327263078921?l=jatropha-expedition.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/feeds/115260327263078921/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30383559&amp;postID=115260327263078921' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115260327263078921'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115260327263078921'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/2006/07/makna-ekspedisi-bagi-belu.html' title='Makna Ekspedisi Bagi Belu'/><author><name>penulis lepas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06858550528843840834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30383559.post-115260303603738677</id><published>2006-07-11T00:14:00.000-07:00</published><updated>2006-07-11T00:30:36.093-07:00</updated><title type='text'>Jatropha Expedition 2006 Siap Dimulai</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/983/3296/1600/_MG_4122.0.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/983/3296/320/_MG_4122.0.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/983/3296/1600/_MG_4122.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Besok, Rabu, 12 Juli 2006, rombongan Jatropha Expedition 2006 akan diberangkatkan dari Lapangan Kantor Kabupaten Belu, Atambua, Nusa Tenggara Timur pada pukul 10:00 WITA. Rencananya, &lt;strong&gt;Staf Ahli Menteri Negara Riset dan Teknologi bidang Energi Terbarukan, Prof Dr Ir Martin Djamin MSc bersama Wakil Gubernur NTT Drs.Frans Lebu Raya&lt;/strong&gt; akan melakukan pelepasan tiga unit Mitsubishi Strada Double Cab – dukungan dari PT. Krama Yudha Tiga Berlian Motors – dengan komposisi bahan bakar: 100 persen minyak jarak murni, 50 persen minyak jarak murni; 50 persen minyak solar dan 100 persen minyak solar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wawan Juanda dari Republic of Entertainment, salah satu pendukung ekspedisi, berujar,”Hari ini, kami akan menggelar pameran bertema minyak jarak murni di Lapangan Senggol, Alun-alun Kota Atambua.” Pameran satu hari yang digelar sejak pukul 15:00 – 21:00 WITA ini akan memamerkan fungsi minyak jarak murni sebagai bahan bakar alternatif. Bukan hanya sebagai bahan bakar pengganti minyak solar, tetapi juga dapat berfungsi sebagai bahan bakar kompor rumah tangga dan alat penerangan masyarakat, seperti petromaks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pameran tersebut, pengunjung dapat menyaksikan proses pengutipan minyak dari biji jarak pagar hingga menjadi minyak jarak murni. ”Masyarakat dapat melihat langsung tumbuhan jarak pagar dan biji jarak pagar hingga menjadi minyak jarak murni,” sebut Wawan melalui percakapan telepon seluler hasil dukungan kartu pra bayar IM-3 Indosat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain menyiapkan pameran, Wawan dan kru Republic of Entertainment telah selesai memeriksa ulang kesiapan kendaraan yang akan dipakai tim ekspedisi. ”Mobil sudah kami siapkan sesuai rencana, untuk 100 persen minyak jarak murni sudah kami isi penuh dan yang 50 persen solar sudah kami campur dengan minyak jarak murni,” ujar Wawan seraya menambahkan konverter yang terpasang di dalam mesin juga telah siap untuk diuji. Dan tiga unit Mitsubishi Strada tersebut turut dipamerkan kepada masyarakat Atambua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foto: Pelepasan Intercity Trial Jakarta - Bandung - Jakarta di halaman kantor redaksi National Geographic Indonesia, Jakarta (Lambok Hutabarat/National Geographic Indonesia)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30383559-115260303603738677?l=jatropha-expedition.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/feeds/115260303603738677/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30383559&amp;postID=115260303603738677' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115260303603738677'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115260303603738677'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/2006/07/jatropha-expedition-2006-siap-dimulai.html' title='Jatropha Expedition 2006 Siap Dimulai'/><author><name>penulis lepas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06858550528843840834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30383559.post-115260049596936851</id><published>2006-07-10T23:10:00.000-07:00</published><updated>2006-07-11T01:13:02.503-07:00</updated><title type='text'>Bersikap Realistis Jangan Terbuai Dulu</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/983/3296/1600/_MG_4223.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/983/3296/320/_MG_4223.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/983/3296/1600/_MG_4331.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Jakarta, Kompas - Majalah National Geographic Indonesia bekerja sama dengan peneliti pada Pusat Penelitian Bioteknologi Institut Teknologi Bandung Prof Robert Manurung, mulai Rabu (12/7) hingga 20 Juli 2006, akan melakukan uji kemampuan minyak biji jarak (Jatropha curcas) sebagai energi alternatif biodiesel. Ekspedisi yang diberi nama "Jatropha Expedition 2006" itu akan menempuh jarak 3.000 kilometer dari Atambua-Denpasar-Bandung-Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Pihak Puslit Bioteknologi ITB telah meneliti biji jarak pagar sejak tahun 1997. Penelitian itu berbuah serangkaian formula yang berakhir pada minyak jarak murni (pure jatropha oil).&lt;br /&gt;Minyak jarak murni inilah yang akan diuji pada Jatropha Expedition 2006 menggunakan tiga komposisi bahan bakar, yaitu 100 persen minyak jarak murni, 50:50 minyak jarak murni-solar, serta 100 persen solar. Uji emisi akan dilakukan untuk melihat dampaknya pada lingkungan dan mesin.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Hasil uji praekspedisi menempuh jarak Jakarta-Bandung- Jakarta dua pekan lalu menunjukkan, tenaga dan torsi mesin kendaraan bermotor lebih tinggi pada penggunaan minyak jarak murni. Lebih jauh, tunggu pembuktiannya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;strong&gt;Diramalkan sejak lama&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Dua tahun setelah Rudolf Diesel memperagakan mesin atau motor diesel untuk pertama kalinya pada 1910, ia berujar, "Pemakaian minyak nabati sebagai bahan bakar untuk saat ini sepertinya tidak berarti, tetapi pada saatnya nanti akan menjadi penting sebagaimana minyak bumi dan produk tir-batu bara saat sekarang."&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Di Indonesia, "nubuat" Diesel itu saat ini sepertinya mengarah pada kebenaran. Optimisme muncul. Kalkulasi di atas kertas berdasarkan analisis para ilmuwan, industrialisasi energi alternatif bahkan dapat berdampak pada terbukanya lapangan kerja, penghijauan lahan kritis, pengentasan kemiskinan, hingga terwujudnya udara bersih.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Memang, yang namanya harapan sah-sah saja digantung tinggi. Ilmu manajemen juga mengajarkan bahwa visi harus berawal dari sebuah mimpi. Di sanalah sedikit banyak posisi pengembangan energi alternatif.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Dengan jelas, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun menunjukkan dukungannya pada pengembangan bahan bakar nabati. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro juga menyatakan ketertarikannya. Apalagi yang kurang bila pemerintah (eksekutif) sudah memosisikan seperti itu?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Dukungan pemerintah secara resmi telah diawali seiring keluarnya Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2006 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati sebagai Bahan Bakar Lain dan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional. Meskipun masih ditunggu adanya kebijakan lain, seperti tata niaganya, dua keputusan itu setidaknya menunjukkan niat.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Di lapangan, biosolar sudah dipasarkan di beberapa SPBU Pertamina. Beberapa pengusaha biodiesel juga telah memasarkan produknya sejak beberapa tahun lalu. Bioetanol juga telah dikembangkan meski dalam skala sangat terbatas.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Barangkali, cerita tentang energi alternatif di dunia saat ini akan lain bila Rudolf Diesel tidak terjatuh dari kapal feri dan tenggelam di Selat Inggris tahun 1913. Kematian itu berbuah spekulasi adanya persekongkolan para pengusaha kartel minyak.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Entah apa yang terjadi sebenarnya, seperti ditulis pendiri dan pengajar Akademi Teknik Adiyasa, Solo, Effendi Syarief dalam bukunya Melawan Ketergantungan pada Minyak Bumi, lambatnya Indonesia mengembangkan bahan bakar nabati sungguh mengherankan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;strong&gt;Bahan baku&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Bahan baku bahan bakar nabati, sebagaimana berkembang di dalam negeri dan beberapa negara lain, di antaranya minyak kelapa sawit, jarak pagar, singkong, tebu, dan kacang-kacangan. Di antara sekian banyak bahan itu, yang paling banyak menyita perhatian di dalam negeri saat ini adalah &lt;em&gt;Jatropha curcas&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Minyak biji jarak telah lama diketahui dan digunakan sebagai sumber energi. Kemampuannya diyakini sebagai bahan bakar kendaraan bermotor. Sayangnya, hingga kini belum terbukti sebagai pengganti solar yang efektif.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Di balik optimisme penggunaan energi alternatif, khususnya minyak jarak, peneliti senior/ahli biologi molekuler pada Puslit Bioteknologi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Dr Teuku Tajudin mengatakan, belum ditemukan formula jenis tanaman jarak unggul, yaitu yang tahan hama, berbuah banyak, memiliki kadar minyak tinggi, dan tumbuh optimal di semua jenis lahan dan lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Soal kejelasan dan daya dukung bahan baku di lapangan itulah yang hingga kini perlu dipastikan sebelum benar-benar diterapkan. Sering kali tertangkap kesan bahwa kampanye itu menyederhanakan soal. Seakan-akan semua akan beres ketika prosesnya benar-benar dijalani. Jarang terdengar suara kritis waspada sehingga ketika kebijakan energi terbarukan dijalankan, impian petani kecil turut sejahtera benar-benar terealisasi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Rudolf Diesel benar, penggunaan minyak nabati sudah menjadi semakin penting. Akan tetapi, saat ini kita masih harus realistis. Terbuai hanya akan membuat mimpi tak kunjung berubah menjadi kenyataan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Sumber: Kompas, Selasa, 11 Juli 2006&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foto: Persiapan dalam Intercity Trial, Jakarta - Bandung - Jakarta, 22 Juni 2006 (Lambok Hutabarat/National Geographic Indonesia)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30383559-115260049596936851?l=jatropha-expedition.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/feeds/115260049596936851/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30383559&amp;postID=115260049596936851' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115260049596936851'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115260049596936851'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/2006/07/bersikap-realistis-jangan-terbuai-dulu.html' title='Bersikap Realistis Jangan Terbuai Dulu'/><author><name>penulis lepas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06858550528843840834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30383559.post-115253080488517829</id><published>2006-07-10T04:20:00.000-07:00</published><updated>2006-07-10T04:26:44.896-07:00</updated><title type='text'>"Jatropha Expedition 2006" Memotivasi Petani NTT</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/983/3296/1600/BELU.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/983/3296/320/BELU.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;KUPANG, JUMAT - Uji coba penggunaan bahan bakar alternatif dari tanaman jarak pagar (Jatropha curcas Linn) melalui Jatropha Expedition 2006 yang akan diselenggarakan National Geographic Indonesia, 12-20 Juli mendatang, memotivasi petani Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk meningkatkan kesejahteraan.&lt;br /&gt;"Masyarakat NTT akan termotivasi untuk meningkatkan kesejahteraan ketika melihat iring-iringan kendaraan pengguna minyak jarak pagar melintas di daerah ini," kata Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah (BKPMD) NTT, Stanis Tefa, di Kupang, Jumat (7/7).&lt;br /&gt;Ia mengatakan, Jatropha Expedition 2006 itu akan diikuti oleh dua orang menteri Kabinet Indonesia Bersatu yakni Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek) Kusmayanto Kadiman dan Menteri Perindustrian Fahmi Idris.&lt;br /&gt;Rute perjalan diawali dari Atambua, Kabupaten Belu menuju Kefamenanu Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), SoE Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) hingga Kupang, ibukota Provinsi NTT. Selanjutnya menyeberang ke Larantuka, Kabupaten Flores Timur, dan melanjutkan perjalanan darat di Pulau Flores melintasi Kabupaten Sikka, Kabupaten Ende, Kabupaten Ngada, Manggarai dan Labuan Bajo di Manggarai Barat.&lt;br /&gt;Para peserta Jatropha Expedition 2006 kemudian menyeberang ke Sumbawa, Lombok, Bali dan Pulau Jawa menggunakan feri lalu menempuh perjalanan darat ke Jakarta melalui Bandung, Jawa Barat. Menurut rencana, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan menerima peserta Jatropha Expedition 2006 di Istana Negara, 20 Juli mendatang. "Belasan unit mobil berbahan bakar minyak jatropha mulai tiba di Kupang, Kamis (6/7), untuk selanjutnya bergerak ke Atambua. Rombongan menteri akan tiba sehari sebelum jadwal ’road show’ 12 Juli mendatang," jelas Tefa.&lt;br /&gt;Tefa mengatakan, uji coba bahan bakar minyak jarak pagar itu sengaja dimulai dari Pulau Timor karena daerah tersebut sangat potensial dalam pengembangan jarak, selain Ngada di Pulau Flores dan sejumlah kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Kabupaten Belu, TTU dan Kupang merupakan daerah di Pulau Timor yang sudah memiliki tanaman jarak dalam jumlah banyak namun belum dioptimalkan.&lt;br /&gt;Khusus untuk Kabupaten Belu, Menristek dan Menperin akan menyerahkan 1.000 batang lebih bibit jatropha, pertanda pemerintah pusat sangat serius dalam memotivasi petani NTT untuk meningkatkan kesejahteraannya. "Pemerintah dan masyarakat Belu juga sudah menyatakan kesediaan dan kesanggupan untuk memberdayakan ribuan bibit jatropha itu sesuai daya dukung lahan. Bahkan mereka berjanji akan menjadikan Belu sebagai lumbung minyak jarak," ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Antara&lt;br /&gt;Penulis: Ima&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.kompas.com/ver1/Peristiwa/0607/07/155207.htm"&gt;http://www.kompas.com/ver1/Peristiwa/0607/07/155207.htm&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30383559-115253080488517829?l=jatropha-expedition.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/feeds/115253080488517829/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30383559&amp;postID=115253080488517829' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115253080488517829'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115253080488517829'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/2006/07/jatropha-expedition-2006-memotivasi.html' title='&quot;Jatropha Expedition 2006&quot; Memotivasi Petani NTT'/><author><name>penulis lepas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06858550528843840834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30383559.post-115227550308755625</id><published>2006-07-07T05:28:00.000-07:00</published><updated>2006-07-17T03:04:36.880-07:00</updated><title type='text'>Mengapa Minyak Jarak Murni?</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Minyak jarak yang digunakan dalam Jatropha Expedition 2006 adalah produk murni dari pengolahan biji jarak. Kadar asam lemak bebas (FFA) dalam minyak jarak murni berhasil ditekan hingga 0,077 persen dan kadar fosfor serendah 0,35 ppm tanpa penambahan zat apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemakaian minyak jarak murni akan menekan ongkos produksi bahan bakar minyak sehingga harga jual menjadi lebih murah, lebih mudah dibuat dan rendah polutan berbahaya. Penambahan metanol pada pengolahan minyak jarak memang akan menghilangkan FFA, namun minyak jarak akan menjadi metil ester atau termasuk biodiesel. Penambahan ini akan menghilangkan banyak keunggulan jarak. Selain itu, prosesnya lebih rumit dan lebih berisiko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mesin diesel yang dipakai memang tak mengalami perubahan, hanya saja dibutuhkan konverter. Alat ini berfungsi menurunkan kekentalan minyak jarak murni dan mengatur buka-tutup minyak jarak murni dengan solar ke bagian mesin. Saat pertama kali dinyalakan, mesin harus “dipancing” dengan solar. Begitu pula ketika akan dimatikan, mesin dibilas dengan solar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Jatropha Expedition 2006 seluruh hasil uji coba, baik keunggulan maupun kelemahan, akan terdokumentasi dengan baik. Tentunya data-data tersebut dapat digunakan pengembangan dan penyempurnaan kinerja minyak jarak murni dan konverter di masa depan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30383559-115227550308755625?l=jatropha-expedition.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/feeds/115227550308755625/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30383559&amp;postID=115227550308755625' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115227550308755625'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115227550308755625'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/2006/07/mengapa-minyak-jarak-murni.html' title='Mengapa Minyak Jarak Murni?'/><author><name>penulis lepas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06858550528843840834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30383559.post-115227243913309169</id><published>2006-07-07T03:58:00.000-07:00</published><updated>2006-07-17T03:02:45.110-07:00</updated><title type='text'>Pemerintah Dukung Bioenergi</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Jakarta, Kompas - Pengembangan energi terbarukan sebagai alternatif ketersediaan bahan bakar minyak di Indonesia diarahkan turut mengangkat kesejahteraan masyarakat. Jutaan tenaga kerja diharapkan dapat terserap dalam rangkaian proses pengembangannya.&lt;br /&gt;Demikian diungkapkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Purnomo Yusgiantoro ketika menerima Tim Ekspedisi Minyak Jarak Murni National Geographic Indonesia (NGI) di kantornya, Selasa (4/7). "Presiden menekankan betul keterkaitan pengembangan minyak jarak dengan pro job dan pro poor," ungkap Purnomo.&lt;br /&gt;Pimpinan tim ekspedisi, Tantyo Bangun menjelaskan, ekspedisi minyak jarak murni sebagai bahan bakar kendaraan bermotor akan dilakukan NGI menempuh rute Atambua-Bali-Bandung-Jakarta, antara 12-20 Juli 2006 mendatang. Di Bali, kegiatan akan diselingi Festival Janthropa yang seluruh penggerak mesin dan bahan bakar dalam kegiatan menggunakan minyak jarak murni.&lt;br /&gt;Purnomo yang mendukung kegiatan itu menyatakan, pengembangan minyak jarak sebagai energi alternatif memang sangat berpotensi mengangkat kesejahteraan masyarakat. Hal itu berbeda dengan karakter eksplorasi minyak dan gas atau pertambangan pada umumnya.&lt;br /&gt;"Pertambangan migas itu harus enclave, yang mengerjakan para ahli di tempat-tempat khusus, misalnya seperti Freeport atau Newmont. Untuk masyarakat sekitar, kemudian dibuat sistem pengembangan masyarakat. Di seluruh dunia begitu adanya," kata dia.&lt;br /&gt;Sementara, pengembangan minyak jarak dapat melibatkan masyarakat secara massal sejak di tingkat produksi bahan mentah. Pemilik kebun pun dapat menjual biji jaraknya kepada produsen.&lt;br /&gt;Ditegaskan dia, bila pengembangan energi terbarukan akan dijadikan program pemerintah maka dibutuhkan investasi yang sangat besar. Untuk itu, kuncinya berada di tangan presiden.&lt;br /&gt;Sambutan sejumlah negara&lt;br /&gt;Prof Robert Manurung, konsultan sekaligus pengembang minyak jarak murni sebagai pengganti BBM yang bekerja sama dengan NGI memaparkan, berdasarkan perhitungannya, jumlah tenaga kerja yang dapat diserap di perkebunan tanaman jarak berasio 1:1. "Potensinya besar sekali," kata Manurung.&lt;br /&gt;Saat ini, lanjut Robert Manurung, para investor dari beberapa negara seperti Jepang, Jerman, China, Belanda, dan beberapa negara di kawasan Timur Tengah menyatakan minat berinvestasi di Indonesia.&lt;br /&gt;Bahkan, investor dari Belanda menyatakan keseriusannya menjadikan salah satu pulau di wilayah Bengkalis sebagai pusat perdagangan minyak jarak murni berskala internasional.&lt;br /&gt;Adapun nilai investasi yang dibutuhkan, kata dia, setiap satu juta hektar lahan setara dengan 1 miliar dollar AS. Nilai itu termasuk alat dan modal kerja selama enam bulan, tetapi belum termasuk pembelian lahan.&lt;br /&gt;Menurut Robert, pengembangan bioteknologi telah memungkinkan pemanenan perdana dapat dilakukan pada usia tanaman lima bulan. Umumnya sekitar enam hingga tujuh bulan. Usianya pun dapat mencapai sekitar 50 tahun.&lt;br /&gt;Menyambut paparan dalam pertemuan sekitar satu jam kemarin, sore harinya Purnomo secara khusus mengundang pengusaha nasional dan asing yang sungguh-sungguh ingin berinvestasi pada pengembangan minyak jarak. (GSA)&lt;br /&gt;Sumber: KOMPAS Humaniora, 5 Juli 2006 (&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.kompas.co.id/"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;http://www.kompas.co.id/&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;) &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30383559-115227243913309169?l=jatropha-expedition.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/feeds/115227243913309169/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30383559&amp;postID=115227243913309169' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115227243913309169'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115227243913309169'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/2006/07/pemerintah-dukung-bioenergi.html' title='Pemerintah Dukung Bioenergi'/><author><name>penulis lepas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06858550528843840834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30383559.post-115226973908538360</id><published>2006-07-07T03:27:00.000-07:00</published><updated>2006-07-07T04:09:38.370-07:00</updated><title type='text'>Menguji Kerja Konverter</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/983/3296/1600/Diagram_01.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center;" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/983/3296/320/Diagram_01.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Dalam pemakaian minyak jarak murni sebagai bahan bakar, kita membutuhkan konverter yang terpasang pada mesin diesel kendaraan yang dipakai. Sebab, ia berfungsi menurunkan kekentalan minyak jarak murni dan mengatur buka-tutup minyak jarak murni dengan solar ke bagian mesin. Saat pertama kali dinyalakan, mesin harus “dipancing” dengan solar. Begitu pula ketika akan dimatikan, mesin dibilas dengan solar. Konverter buatan PT Agraprana telah memenuhi syarat yang dibutuhkan: kecil, ringan dan mudah digunakan. Saat ini konverter yang dipakai telah memasuki generasi keempat dan selama Jatropha Expedition 2006 mengalami serangkaian pengujian. Parameter yang dipakai adalah ketahanan dan kehandalannya. Bilamana ekspedisi telah usai, tak menutup kemungkinan akan dihasilkan konverter generasi terbaru. Sebab, para peneliti dari PT Agraprana akan mendapatkan sejumlah data keunggulan dan kelemahan dari kinerja konverter ini. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;Ingin tahu hasilnya? Ikuti terus perkembangan ekspedisi ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;Diagram Alur Kerja Konverter Minyak Jarak Murni (Lambok Hutabarat/National Geographic Indonesia)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30383559-115226973908538360?l=jatropha-expedition.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/feeds/115226973908538360/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30383559&amp;postID=115226973908538360' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115226973908538360'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115226973908538360'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/2006/07/menguji-kerja-konverter.html' title='Menguji Kerja Konverter'/><author><name>penulis lepas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06858550528843840834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30383559.post-115226202835698891</id><published>2006-07-07T01:06:00.000-07:00</published><updated>2006-07-07T01:47:08.380-07:00</updated><title type='text'>Pakar Jarak Pagar: Dr. Robert Manurung</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/983/3296/1600/3.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/983/3296/320/3.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Jangan pernah meragukan kemampuan lelaki berkacamata ini mengenai aplikasi bahan bakar terbarukan, khususnya jarak pagar. Di sela kegiatan harian yang begitu padat, Dr. Robert Manurung dengan senang hati meluangkan waktu sebagai teman diskusi seputar jarak pagar (&lt;em&gt;Jatropha curcas&lt;/em&gt;). Apalagi obrolan ini dilakukan di teras kediamannya yang asri di kawasan sejuk, Lembang, Jawa Barat bersama satu cangkir kopi hangat dan satu piring rebusan roti sumbu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Robert, begitu ia akrab disapa oleh para staf di Pusat Penelitian Bioteknologi Institut Teknologi Bandung (ITB) dan rekan sejawat, telah meneliti tanaman jarak pagar sejak 1997. Ia merasa tertantang oleh salah satu pertanyaan: Mungkinkah memakai jarak sebagai pengganti solar tanpa mencampurnya dengan metanol?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap tetes minyak yang diperas dari biji pohon jarak pagar dan akan digunakan sebagai pengganti bahan bakar mesin diesel, mesti dicampur dengan metanol. Penyebabnya adalah kombinasi antara kadar asam lemak bebas (&lt;em&gt;Free Fatty Acid&lt;/em&gt;/FFA) yang terbilang tinggi pada minyak jarak – hingga sekitar satu persen volume – dengan kadar airnya yang sekitar 700 ppm. Metanol telah digunakan sebagai satu-satunya penghilang FFA dan pengubah trigliserida menjadi metil ester, atau termasuk biodiesel. Proses penambahan metanol yang lebih dikenal dengan istilah esterifikasi ini juga mengubah viskositas minyak jarak menjadi lebih encer, sehingga lebih mudah terbakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penambahan metanol untuk menghilangkan FFA pada pengolahan minyak dari biji jarak pagar turut menghilangkan banyak sekali keunggulan jarak. Selain menjadi bergantung pada zat tambahan, “juga mesti ada peralatan tersendiri dan menyebabkan setiap produsen minyak jarak mesti selalu menyediakan metanol. Tentunya ini memperpanjang proses pengolahan minyak jarak, dan harga jual minyaknya pun bertambah mahal dengan sendirinya,” tutur Pak Robert, “selain itu, emisi metanol juga berbahaya.”Pada akhirnya, hilanglah inti keutamaan minyak jarak pagar: Murah, mudah dibuat, dan bebas dari polutan berbahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pertengahan 2003, Pak Robert dan dan tim dari Pusat Penelitian Bioteknologi ITB berhasil membuat alat yang bisa memisahkan FFA dan menekan kandungan air dalam minyak jarak pagar sampai ambang batas minimal, untuk digunakan pada mesin-mesin statis (mesin diesel industri), tanpa penambahan zat apapun ke dalamnya. Ia memberi nama penemuannya &lt;em&gt;Pure Jatropha Oil&lt;/em&gt; (minyak jarak murni).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mesin-mesin dinamis cenderung bekerja pada kondisi ekstrem dan karenanya menjadi lebih peka. Untuk kebutuhan itu, Pak Robert dan timnya menyempurnakan &lt;em&gt;Pure Jatropha Oil&lt;/em&gt;, kurang dari setahun. Kini minyak jarak murni hasil olahannya berkandungan FFA hanya 0,3 persen dengan kadar air sampai serendah 70 ppm. Terendah di dunia, dan tanpa penambahan zat apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui Jatropha Expedition 2006, Pak Robert akan menguji kehandalan minyak jarak murni sebagai bahan bakar kendaraan bermesin diesel. Ekspedisi yang akan menempuh jarak hampir 3.000 kilometer akan mengambil rute, Atambua (NTT) – Denpasar (Bali) – Bandung (Jawa Barat) – Jakarta. Ia ingin menunjukkan bahwa minyak jarak murni dapat menggantikan minyak solar pada kendaraan diesel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foto: Dr. Robert Manurung bersama alat khusus penghasil minyak jarak murni. (Buce Buwantoro) &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30383559-115226202835698891?l=jatropha-expedition.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/feeds/115226202835698891/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30383559&amp;postID=115226202835698891' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115226202835698891'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115226202835698891'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/2006/07/pakar-jarak-pagar-dr-robert-manurung.html' title='Pakar Jarak Pagar: Dr. Robert Manurung'/><author><name>penulis lepas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06858550528843840834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30383559.post-115225839933985692</id><published>2006-07-07T00:38:00.000-07:00</published><updated>2006-07-07T00:46:39.340-07:00</updated><title type='text'>Pengolahan Minyak Jarak Murni</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/983/3296/1600/7.0.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/983/3296/400/7.0.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Buah jarak pagar dipanen ketika 75 persen buah di sebuah tangkai telah mengering dan sisa buah lainnya berwarna kuning kehijauan. Ciri buah yang telah kering adalah bila batas antar ruang biji – satu buah terdiri atas tiga biji – tampak jelas bergaris. Buah jarak pagar yang dapat berjumlah 10-15 buah pada satu tangkai atau malai tidak matang secara serempak. Jika menunggu kering semua, dikhawatirkan buah yang lebih dulu kering akan pecah dan biji pun berhamburan. Seluruh hasil panen dijemur di bawah sinar matahari langsung selama 1-2 hari. Kadar air ideal adalah 6 %. Setelah itu biji diambil satu persatu dan dikumpulkan di tempat penyimpanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biji jarak pagar kemudian dikukus pada suhu 170 oC selama 30 menit. Setelah itu digerus dengan mesin untuk melepaskan daging biji dan kulit biji dan dipisahkan melalui alat pemisahan. Daging biji yang telah terpisah dari kulit biji kemudian dilumatkan dan dikempa menggunakan mesin alat tekan (&lt;em&gt;press&lt;/em&gt;) untuk mendapatkan minyaknya. Minyak yang berhasil dikutip dengan peralatan yang ada di Pusat Penelitian Bioteknologi Institut Teknologi Bandung (ITB) sampai saat ini telah mencapai 36,8 persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pihak ITB pun telah berhasil membuat alat yang dapat memisahkan kadar asam lemak bebas (&lt;em&gt;Free Fatty Acid&lt;/em&gt;/FFA) yang terbilang tinggi pada minyak jarak. Mereka berhasil pula menekan kandungan air dalam minyak jarak sampai ambang batas minimal, untuk digunakan pada mesin-mesin statis (mesin diesel industri), tanpa penambahan zat apa pun ke dalamnya. Hasilnya, mereka menamakan penemuan tersebut: Minyak jarak murni (&lt;em&gt;Pure Jatropha Oil&lt;/em&gt;). &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;Foto: Alat khusus yang dapat menghasilkan minyak jarak murni buatan Pusat Penelitian Bioteknologi ITB (Buce Buwantoro)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30383559-115225839933985692?l=jatropha-expedition.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/feeds/115225839933985692/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30383559&amp;postID=115225839933985692' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115225839933985692'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115225839933985692'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/2006/07/pengolahan-minyak-jarak-murni.html' title='Pengolahan Minyak Jarak Murni'/><author><name>penulis lepas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06858550528843840834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30383559.post-115225782099309459</id><published>2006-07-07T00:18:00.000-07:00</published><updated>2006-07-07T00:37:01.036-07:00</updated><title type='text'>Kenali Jarak Pagar</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/983/3296/1600/pohon%20jarak.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/983/3296/400/pohon%20jarak.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Jarak pagar (&lt;em&gt;Jatropha curcas&lt;/em&gt;) bukanlah tanaman yang asing bagi sejumlah penduduk di Indonesia. Ia dapat tumbuh dengan cepat hingga mencapai ketinggian enam meter dan tahan terhadap kekeringan sekalipun di daerah tandus. Namun untuk menjamin produktivitas yang tinggi, jarak pagar akan tumbuh subur pada daerah dengan rentang curah hujan antara 200 – 1500 mm/tahun. Pada daerah dengan curah hujan yang lebih rendah, atau pada musim kemarau berkepanjangan, tanaman ini menggugurkan daunnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada umumnya seluruh bagian tanamannya beracun sehingga tanaman ini hampir tak memiliki hama. Masalah hama dan penyakit akan muncul bila dilakukan penanaman jarak pagar secara luas dengan sistem monokultur. Itu sebabnya, penanaman dilakukan dengan cara tumpang sari bersama tanaman lain, seperti lada atau vanila. Selain itu, benih yang ditanam pun harus jelas asal-usulnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Umur tanaman jarak pagar dapat mencapai 50 tahun. Jarak pagar mulai berbuah pada umur enam bulan dan produktivitasnya akan stabil setelah usia tanaman mencapai 1-3 tahun. Buahnya berbentuk elips dan memiliki panjang sekitar dua sentimeter, mengandung tiga biji per buah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jarak pagar sempat dilupakan orang. Sebab, penelitian mengenai mengenai minyak biji jarak yang banyak dilakukan hingga saat ini hanya terpusat pada minyak biji jarak jenis &lt;em&gt;Ricinus communis&lt;/em&gt;. Jarak jenis ini telah lama dikenal dengan pemanfaatan minyak bijinya yang sering disebut &lt;em&gt;Castor Oil&lt;/em&gt; sebagai bahan pelumas mesin lantaran sifatnya yang tahan oksidasi dan dapat melekat pada permukaan logam dalam bentuk lapisan film yang sangat tipis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejatinya, jarak pagar memiliki potensi pemanfaatan yang amat besar. Potensi yang dimiliki jarak pagar adalah minyak bijinya dapat dimanfaatkan sebagai pengganti bahan bakar minyak diesel untuk sistem pembangkit listrik dan bahan bakar kendaraan bermesin diesel, bungkil bijinya setelah melalui proses detoksifikasi dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak dan atau industri berbasis protein, dan kulit bijinya melalui proses pirolisis dapat dikonversi menjadi bahan bakar cair pengganti minyak berat (residu) atau minyak tanah untuk kebutuhan industri dan rumah tangga. Minyak jarak juga dapat berfungsi sebagai bahan bakar alat penerangan masyarakat, seperti petromaks. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30383559-115225782099309459?l=jatropha-expedition.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/feeds/115225782099309459/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30383559&amp;postID=115225782099309459' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115225782099309459'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115225782099309459'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/2006/07/kenali-jarak-pagar.html' title='Kenali Jarak Pagar'/><author><name>penulis lepas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06858550528843840834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30383559.post-115210575614832110</id><published>2006-07-05T06:04:00.000-07:00</published><updated>2006-07-05T06:22:36.160-07:00</updated><title type='text'>Minyak Jarak Bisa Optimal</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/983/3296/1600/Jatropa_3818.jpg"&gt;&lt;img style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/983/3296/320/Jatropa_3818.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Jakarta, Kompas - Hasil uji coba pertama kali atas minyak jarak murni sebagai bahan bakar alternatif kendaraan bermotor terbukti berfungsi optimal. Tenaga dan torsi kendaraan bermotor berbahan bakar minyak jarak murni lebih tinggi dibandingkan mobil solar, sedangkan tingkat emisi minyak jarak lebih rendah.&lt;br /&gt;Hasil di atas diperoleh dalam ekspedisi pendahuluan Jatropha Expedition 2006 yang akan digelar Majalah National Geographic Indonesia (NGI) menempuh rute Atambua-Bali-Bandung-Jakarta tanggal 12-30 Juli 2006. Ekspedisi pendahuluan kemarin menempuh rute Jakarta-Bandung-Jakarta (325 kilometer).&lt;br /&gt;Uji coba sehari kemarin menggunakan tiga mobil kabin ganda dengan tiga komposisi bahan bakar, masing-masing 100 persen minyak jarak, campuran minyak jarak-solar, dan 100 persen solar. "Tenaga dan torsi lebih tinggi dibanding solar. Artinya, daya untuk mesin jadi lebih panjang," kata Prabowo, anggota tim ekspedisi bersama Tantyo Bangun Pemred NGI, Kamis (22/6). (GSA) Sumber: Harian KOMPAS, 23 Juni 2006.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30383559-115210575614832110?l=jatropha-expedition.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/feeds/115210575614832110/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30383559&amp;postID=115210575614832110' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115210575614832110'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115210575614832110'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/2006/07/minyak-jarak-bisa-optimal.html' title='Minyak Jarak Bisa Optimal'/><author><name>penulis lepas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06858550528843840834</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30383559.post-115149738108112410</id><published>2006-06-28T05:07:00.000-07:00</published><updated>2006-06-28T05:23:01.090-07:00</updated><title type='text'>Intercity Trial</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/802/3098/1600/IMG_4333.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/802/3098/400/IMG_4333.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30383559-115149738108112410?l=jatropha-expedition.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/feeds/115149738108112410/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30383559&amp;postID=115149738108112410' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115149738108112410'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30383559/posts/default/115149738108112410'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jatropha-expedition.blogspot.com/2006/06/intercity-trial.html' title='Intercity Trial'/><author><name>TB</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
