Wejangan Kepala Negara
ARAHAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
KEPADA PARA PESERTA EKSPEDISI JATROPHA
HALAMAN DEPAN BINA GRAHA, 20 JULI 2006
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,Selamat sore,Salam sejahtera untuk kita semua,Para Menteri yang saya hormati, Pimpinan National Geographic Indonesia dan staf, Pimpinan Lembaga Pemerintah non Departemen, para pengusaha, Pimpinan Ekspedisi Jatropha, NGI Indonesia. Saudara-saudara yang telah melaksanakan uji coba, lintas daerah bertemu dengan saudara-saudara kita dalam bentangan rute yang begitu panjang, dalam waktu hampir 10 hari. Hadirin sekalian yang saya hormati,Alhamdulillah, sore hari ini kita dapat bertemu di depan Bina Graha ini untuk bersama-sama membuktikan bahwa pengembangan green energy, pengembangan bioenergi sebagai energi alternatif di negeri kita ini sangat mungkin untuk kita lakukan. Atas nama pemerintah, saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang sudah memotong kurva, melakukan kampanye, memberikan harapan dan keyakinan kepada rakyat kita bahwa pengembangan jarak pagar untuk energi yang aman, yang bertenaga kuat dan dapat segera dipakai dalam transportasi kita betul-betul dapat untuk dibuktikan. Sekali lagi, terimalah ucapan selamat, terima kasih dan penghargaan dari saya.Saudara-saudara,Kalau kita menyimak perkembangan energi pada tingkat global, kita harus mengubah paradigma, cara berpikir dan mindset sejak sekarang, agar kita tidak menjadi dinosaurus. Kalau kita mengharapkan kembali harga minyak bumi, crude di dunia ini turun di bawah 40 dolar, apalagi 20 dolar, berarti kita hidup di alam mimpi. Karena pergerakan harga minyak di dunia ini dalam perkembangan ekonomi global amat ditentukan akhirnya pada supply and demand pada tingkat global. Negara-negara besar, seperti China, India, Amerika Serikat, bahkan Indonesia setiap tahun mengkonsumsi bahan bakar minyak secara meningkat pula. Sedangkan deposit dari minyak bumi, gas juga susut, belum kalau ada faktor-faktor lain. Faktor geopolitik sebagaimana yang terjadi di Timur Tengah sekarang ini ataupun di Nigeria ataupun tempat-tempat yang lain yang dari hubungan supply dan demand mendorong harga minyak bumi itu tinggi, tentu menjadi lebih tinggi bahkan akan volatile, tidak stabil dan akan berfluktuasi dari masa ke masa. Satu fenomena dan realitas baru ini mengharuskan kita semua, mulai dari cendekiawan, peneliti, teknolog, industriawan, businessman, pemerintah sebagai policy maker, semua untuk betul-betul menggeser paradigma dan mindset. Dari yang hanya menggantungkan fossil based fuel untuk menuju ke energi alternatif sehingga akan makin rasional penggunaan, baik yang sifatnya fossil based fuel dengan non fossil based fuel ataupun yang renewable dengan unrenewable. Apa yang saudara lakukan menjadi titik penting dalam upaya kita untuk mengembangkan green energy. Kurang lebih dua minggu yang lalu, saya memimpin pertemuan di Losari, Semarang selama 2 hari. Saya mengundang banyak kalangan untuk memikirkan bagaimana kita mengembangkan green energy ke depan ini. Yang pertama, kembali kepada kebijakan energi. Abad 21 yang kita kembangkan di negeri ini, bahwa sepantasnya kita mengurangi ketergantungan pada BBM yang berasal dari minyak menjadi kurang dari itu menggunakan gas, menggunakan batubara, menggunakan biofuel dan energi yang terbarukan lainnya. Khusus biofuel, bioenergi, ada sejumlah peluang besar di negeri ini. Tanah tersedia, budaya bertani jarak, singkong, tebu dan kelapa sawit kita miliki. Tenaga kerja ada, machinery bisa kita bangun, infrastruktur sebagian sudah ada. Yang belum bisa kita bangun pasar atau market, baik yang dikonsumsi oleh Pertamina kita, domestic market ada, apalagi kalau untuk pertimbangan ekonomi sebagian bisa kita ekspor. Ini merupakan peluang besar yang tidak boleh kita sia-siakan. Oleh karena itu, sekarang dan ke depan ini di samping yang sudah berkembang sekarang, Pemerintah bersama-sama dengan semua kalangan ingin mengembangkan green energy secara besar-besaran. Satu tujuannya memang untuk kepentingan security of energy supply yang saya jelaskan tadi.Yang kedua, untuk menciptakan lapangan kerja yang lebih besar, karena pertanian, perkebunan singkong, tebu, kelapa sawit dan jarak ini tersebar di seluruh tanah air. Harapan kita, lapangan kerja di daerah pertanian, perdesaan, daerah tertinggal juga dapat diberikan. Otomatis kemiskinan, harapan kita akan berkurang dan yang lebih penting lagi ekonomi lokal bergerak, ekonomi nasional bergerak dan kita punya penghematan devisa untuk mengimpor BBM dan bisa kita gunakan untuk yang lain.Itulah big picture, gambar besar yang sedang kita bangun dan Insya Allah akan kita kembangkan di waktu yang akan datang. Atas semuanya itu, yang saudara lakukan saya katakan memotong kurva karena biasanya kita kembangkan, maju lagi, uji lapangan dan seterusnya. Oleh karena itu, saya berterima kasih dan dengan inisiatif, prakarsa dari National Geographic Indonesia dan teman-teman yang lain, mudah-mudah langkah kita untuk mengembangkan green energy ini tinggal betul-betul bisa dicapai untuk tenaga kerja rakyat kita, pengurangan kemiskinan rakyat kita, peningkatan kesejahteraan rakyat kita, penciptaan lingkungan yang bersih di negeri ini dan kemudian untuk keamanan energi secara nasional dan tentu akan menyumbangkan keamanan energi secara global.Itulah yang dapat saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Bagi para pengusaha yang sudah masuk di bidang green energy, teruslah, mari kita lebih kembangkan lagi. Pemerintah akan memberikan fasilitas, payung kebijakan, insentif-insentif tertentu nanti yang sedang kita pikirkan, agar semua berkembang dan di atas segalanya adalah job creation, poverty reduction untuk rakyat kita di seluruh Indonesia.Demikianlah yang dapat saya sampaikan.Terima kasih,Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Sumber: Biro Pers dan MediaRumah Tangga Kepresidenan


