Jatropha Expedition 2006

Ekspedisi uji coba secara empiris dan ilmiah kelayakan minyak jarak pagar (Jatropha curcas) murni dari Atambua, Timor ke Jakarta, 12 hingga 20 Juli 2006. NATIONAL GEOGRAPHIC INDONESIA-BIOTECHNOLOGY RESEARCH CENTER ITB- BIOCHEM PRIMA INTERNATIONAL

Tuesday, September 12, 2006

Wejangan Kepala Negara

ARAHAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
KEPADA PARA PESERTA EKSPEDISI JATROPHA
HALAMAN DEPAN BINA GRAHA, 20 JULI 2006

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,Selamat sore,Salam sejahtera untuk kita semua,Para Menteri yang saya hormati, Pimpinan National Geographic Indonesia dan staf, Pimpinan Lembaga Pemerintah non Departemen, para pengusaha, Pimpinan Ekspedisi Jatropha, NGI Indonesia. Saudara-saudara yang telah melaksanakan uji coba, lintas daerah bertemu dengan saudara-saudara kita dalam bentangan rute yang begitu panjang, dalam waktu hampir 10 hari. Hadirin sekalian yang saya hormati,Alhamdulillah, sore hari ini kita dapat bertemu di depan Bina Graha ini untuk bersama-sama membuktikan bahwa pengembangan green energy, pengembangan bioenergi sebagai energi alternatif di negeri kita ini sangat mungkin untuk kita lakukan. Atas nama pemerintah, saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang sudah memotong kurva, melakukan kampanye, memberikan harapan dan keyakinan kepada rakyat kita bahwa pengembangan jarak pagar untuk energi yang aman, yang bertenaga kuat dan dapat segera dipakai dalam transportasi kita betul-betul dapat untuk dibuktikan. Sekali lagi, terimalah ucapan selamat, terima kasih dan penghargaan dari saya.Saudara-saudara,Kalau kita menyimak perkembangan energi pada tingkat global, kita harus mengubah paradigma, cara berpikir dan mindset sejak sekarang, agar kita tidak menjadi dinosaurus. Kalau kita mengharapkan kembali harga minyak bumi, crude di dunia ini turun di bawah 40 dolar, apalagi 20 dolar, berarti kita hidup di alam mimpi. Karena pergerakan harga minyak di dunia ini dalam perkembangan ekonomi global amat ditentukan akhirnya pada supply and demand pada tingkat global. Negara-negara besar, seperti China, India, Amerika Serikat, bahkan Indonesia setiap tahun mengkonsumsi bahan bakar minyak secara meningkat pula. Sedangkan deposit dari minyak bumi, gas juga susut, belum kalau ada faktor-faktor lain. Faktor geopolitik sebagaimana yang terjadi di Timur Tengah sekarang ini ataupun di Nigeria ataupun tempat-tempat yang lain yang dari hubungan supply dan demand mendorong harga minyak bumi itu tinggi, tentu menjadi lebih tinggi bahkan akan volatile, tidak stabil dan akan berfluktuasi dari masa ke masa. Satu fenomena dan realitas baru ini mengharuskan kita semua, mulai dari cendekiawan, peneliti, teknolog, industriawan, businessman, pemerintah sebagai policy maker, semua untuk betul-betul menggeser paradigma dan mindset. Dari yang hanya menggantungkan fossil based fuel untuk menuju ke energi alternatif sehingga akan makin rasional penggunaan, baik yang sifatnya fossil based fuel dengan non fossil based fuel ataupun yang renewable dengan unrenewable. Apa yang saudara lakukan menjadi titik penting dalam upaya kita untuk mengembangkan green energy. Kurang lebih dua minggu yang lalu, saya memimpin pertemuan di Losari, Semarang selama 2 hari. Saya mengundang banyak kalangan untuk memikirkan bagaimana kita mengembangkan green energy ke depan ini. Yang pertama, kembali kepada kebijakan energi. Abad 21 yang kita kembangkan di negeri ini, bahwa sepantasnya kita mengurangi ketergantungan pada BBM yang berasal dari minyak menjadi kurang dari itu menggunakan gas, menggunakan batubara, menggunakan biofuel dan energi yang terbarukan lainnya. Khusus biofuel, bioenergi, ada sejumlah peluang besar di negeri ini. Tanah tersedia, budaya bertani jarak, singkong, tebu dan kelapa sawit kita miliki. Tenaga kerja ada, machinery bisa kita bangun, infrastruktur sebagian sudah ada. Yang belum bisa kita bangun pasar atau market, baik yang dikonsumsi oleh Pertamina kita, domestic market ada, apalagi kalau untuk pertimbangan ekonomi sebagian bisa kita ekspor. Ini merupakan peluang besar yang tidak boleh kita sia-siakan. Oleh karena itu, sekarang dan ke depan ini di samping yang sudah berkembang sekarang, Pemerintah bersama-sama dengan semua kalangan ingin mengembangkan green energy secara besar-besaran. Satu tujuannya memang untuk kepentingan security of energy supply yang saya jelaskan tadi.Yang kedua, untuk menciptakan lapangan kerja yang lebih besar, karena pertanian, perkebunan singkong, tebu, kelapa sawit dan jarak ini tersebar di seluruh tanah air. Harapan kita, lapangan kerja di daerah pertanian, perdesaan, daerah tertinggal juga dapat diberikan. Otomatis kemiskinan, harapan kita akan berkurang dan yang lebih penting lagi ekonomi lokal bergerak, ekonomi nasional bergerak dan kita punya penghematan devisa untuk mengimpor BBM dan bisa kita gunakan untuk yang lain.Itulah big picture, gambar besar yang sedang kita bangun dan Insya Allah akan kita kembangkan di waktu yang akan datang. Atas semuanya itu, yang saudara lakukan saya katakan memotong kurva karena biasanya kita kembangkan, maju lagi, uji lapangan dan seterusnya. Oleh karena itu, saya berterima kasih dan dengan inisiatif, prakarsa dari National Geographic Indonesia dan teman-teman yang lain, mudah-mudah langkah kita untuk mengembangkan green energy ini tinggal betul-betul bisa dicapai untuk tenaga kerja rakyat kita, pengurangan kemiskinan rakyat kita, peningkatan kesejahteraan rakyat kita, penciptaan lingkungan yang bersih di negeri ini dan kemudian untuk keamanan energi secara nasional dan tentu akan menyumbangkan keamanan energi secara global.Itulah yang dapat saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Bagi para pengusaha yang sudah masuk di bidang green energy, teruslah, mari kita lebih kembangkan lagi. Pemerintah akan memberikan fasilitas, payung kebijakan, insentif-insentif tertentu nanti yang sedang kita pikirkan, agar semua berkembang dan di atas segalanya adalah job creation, poverty reduction untuk rakyat kita di seluruh Indonesia.Demikianlah yang dapat saya sampaikan.Terima kasih,Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sumber: Biro Pers dan MediaRumah Tangga Kepresidenan

Monday, September 04, 2006

Jatropha Expedition 2006

Jatropha Expedition 2006

Monday, August 07, 2006

Membahas Kendala Pada Konverter


Cerita perjalanan pengujian minyak jarak murni dalam "Jatropha Expedition 2006" memang telah menarik banyak orang. Dalam kisah yang tertuang dalam jurnal ini, tim sempat mengalami kendala dengan konverter di kala suhu lingkungan anjlok. Seorang pembaca setia yang juga pemerhati energi hijau, Uter Widodo, mengirimkan masukan kepada tim. "Karena kendala adalah pengentalan minyak jarak pada saat suhu rendah maka kami menyarankan saluran minyak jarak sebelum dialirkan ke konverter sebaiknya dilewatkan radiator baik itu dtempelkan di luar radiator atau pipa tersebut dimasukkan di ruang dalam radiator (air panas). Hal ini pernah kami lakukan pada mesin diesel hardtop dan ternyata tidak bermasalah
pada saat kami berjalan pada malam hari dan suhu di bawah 15 derajat Celcius. Dan komposisi minyak kami murni tanpa tambahan apapun."

B. Prabowo dari PT Agraprana menanggapi masukan tersebut. Ada dua penyebab utama dari gangguan yang dialami. Pertama, karena konverter tak dapat berfungsi sebagaimana mestinya, disebabkan pada saat temperatur udara turun begitu rendah, mesin secara otomatis menutup aliran cairan pendinginnya ke radiator. Ini bertujuan, agar panas dari mesin itu tak terbuang percuma dan membuat mesin tidak bekerja efisien.

Lantaran aliran cairan pendingin ke radiator terhenti, otomatis konverter tak mendapatkan energi panas yang dibutuhkan untuk menurunkan viskositas minyak jarak. Akibatnya, minyak jarak menjadi kental, sehingga alirannya terhambat saat melewati filter. Pada akhirnya pasokan bahan bakar ke mesin menjadi terganggu.

Masalah tersebut sudah dapat di atasi pada prototipe berikutnya, yang tak mengambil panas dari aliran cairan pendingin ke radiator, tetapi mengambil panas dari aliran cairan pendingin di dalam mesin.

Hal yang kedua, kestabilan dari minyak jarak murni juga kurang mumpuni pada temperatur yang begitu rendah. "Tapi mohon diingat, minyak jarak yang dipakai adalah minyak jarak murni tanpa ditambah aditif setetes pun," sebut Prabowo yang terus menyempurnakan prototipe konverter. Jadi nantikan terus kisah minyak jarak murni di masa mendatang.


Foto: Pengetesan Mobil 100% minyak jarak murni dalam Festival Jatropha di Sanur, Bali, beberapa waktu lalu (Lambok Hutabarat/National Geographic Indonesia)

Thursday, August 03, 2006

Dari Pameran ke Pameran

Usai menghebohkan gelaran International Indonesia Motor Show 2006 beberapa waktu lalu, mobil-mobil Jatropha Expedition telah siap "mejeng" dalam Pameran Produksi Indonesia (PPI), yang digelar Departemen Perindustrian di arena Pekan Raya Jakarta, 7 - 15 Agustus 2006. Seperti biasa, duet Mitsubishi Strada berbahan bakar 100 persen minyak jarak murni serta 50:50 minyak solar dan minyak jarak murni unjuk tampang pada setiap pengunjung.
Buat yang penasaran pengen mengintip "jeroan" mobil juga bisa. Lha, kap mesinnya dibuka kok. Di pameran ini juga dipampangkan foto-foto selama perjalanan panjang, Atambua, NTT hingga Jakarta, berjarak sekitar 3200 kilometer.

Belum cukup itu, tim ekspedisi juga telah menyiapkan film perjalanan. Sambutan yang meriah selama perjalanan di Nusa Tenggara Timur, Pameran Serba Jarak di Sanur, Bali, Penyambutan di Institut Teknologi Bandung hingga diterima Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di halaman Istana Negara dapat kita saksikan dalam film tersebut. Menarik kan?

Monday, July 31, 2006

Jarak Tumbuh Liar di NTT

Kupang, Kompas - Ribuan hektar pohon jarak (Jatropha curcas L) tersebar di sejumlah areal hutan di Nusa Tenggara Timur dengan tingkat kualitas jauh lebih tinggi dari pohon jarak di daerah lain. Minyak pohon jarak itu selama ini sebatas dimanfaatkan masyarakat di kampung-kampung terpencil untuk sarana penerangan rumah tangga. Pemprov NTT baru melakukan budidaya jarak sekitar 28.000 hektar di Kabupaten Belu.
Kepala Subdinas Pengembangan Tanaman Dinas Perkebunan NTT Ir Funan Ignatius di Kupang, Sabtu (29/7), mengatakan, tanaman jarak sudah lama dikenal masyarakat NTT, tetapi masyarakat tidak banyak mengetahui manfaatnya. "Mereka hanya mengambil biji jarak untuk diambil minyaknya dan digunakan untuk penerangan malam hari. Bahkan di desa-desa terpencil jauh dari penerangan listrik, hingga sekarang masih menggunakan minyak biji jarak untuk penerangan. Biji jarak ditumbuk bersama kapas sampai halus, kemudian dibalutkan pada lidi atau ranting kayu dan dibakar," kata Funan.
Belum ada data resmi tentang potensi pohon jarak yang ada di hutan-hutan di NTT saat ini. Diperkirakan jutaan pohon jarak alam tersebar di 15 kabupaten.
Kepemilikan
Sampai saat ini belum ada warga masyarakat mengklaim areal-areal yang mengandung pohon jarak sebagai hak milik. Apabila jarak benar-benar memberi manfaat sebagai pengganti solar untuk bahan bakar kendaraan, dan memberi manfaat ekonomis bagi masyarakat, mereka akan memberi perhatian khusus. Pohon jarak yang tersebar di hutan akan diburu, bahkan dirawat dan dibudidayakan masyarakat secara khusus.
NTT memang cocok untuk tanaman jarak karena jenis tanaman ini suka tumbuh di lahan kritis dan di dataran rendah. Sesuai penelitian, jarak yang tumbuh di dataran rendah kadar minyaknya jauh lebih berkualitas dibandingkan dataran tinggi.
Ada beberapa jenis jarak di NTT, tetapi sedang diteliti. Pemerintah Provinsi NTT sedang menanam sekitar 28.000 anakan di Kabupaten Belu sebagai contoh pengembangan jarak di kabupaten lain.
Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Bali Nyoman Supartha di Denpasar mengatakan, setidaknya sekitar 210.000 hektar lahan kering atau kritis di Pulau Bali cocok ditanami jarak. Lahan yang tergolong marjinal itu umumnya terbentang di Bali bagian utara, Karangasem, dan Nusa Penida.
Sedangkan Pemprov Nusa Tenggara Barat (NTB) secara resmi melarang penjualan setek pohon jarak pagar ke provinsi lain sebagai upaya pelestarian plasma nutfah jarak lokal.
Pemprov NTB telah mengembangkan tanaman jarak seluas 675.500 hektar sejak 2006. Petani juga menanam jarak pada areal 950 hektar, dengan produksi 20 ton tahun 2004, naik jadi 50 ton tahun 2005, dan 160 ton tahun 2006. Harga jual biji jarak untuk bibit Rp 5.000 per kilogram. (KOR/ANS/RUL)

Sumber: KOMPAS, Senin, 31 Juli 2006

Delapan Kandidat Doktor soal Jarak Pagar ke Belanda

Jakarta, Kompas - Di tengah upaya pengembangan energi alternatif, disiapkan delapan kandidat doktor terkait pengembangan tanaman jarak pagar (Jatropha curcas). Kedelapan orang terpilih akan mengikuti program empat tahun yang rencananya dimulai bulan Agustus 2006 di Belanda.
"Pengembangan tanaman jarak pagar sangat prospektif dan kita perlu para ahli, termasuk kemungkinan mengembangkan produk-produk turunannya," kata Prof Robert Manurung, peneliti pada Pusat Penelitian Bioteknologi Institut Teknologi Bandung (ITB), ketika dihubungi seusai rapat rencana pengembangan energi alternatif di Jakarta, Kamis (27/7).
Robert merupakan tokoh di balik ekspedisi minyak jarak murni sebagai pengganti bahan bakar minyak (BBM). Ekspedisi menguji tiga mobil bermesin diesel Mitsubishi telah menempuh jarak sekitar 3.200 kilometer dari Atambua (NTB)-Denpasar-Bandung-Jakarta.
Khusus untuk program doktor itu, Pemerintah Belanda menghibahkan dana melalui institusi The Netherlands Royal Academic of Arts and Sciences sebesar 1 juta Euro. Kedelapan kandidat yang terpilih dari beberapa pelamar akan belajar di Universitas Groningen dan Universitas Wageningen, Belanda.
Masa belajar dijadwalkan berlangsung empat tahun, masing-masing dua tahun di Belanda dan dua tahun di Indonesia. Mereka dibimbing bersama promotor dari Indonesia dan Belanda. "Di Belanda mereka akan meneliti di laboratorium yang lebih lengkap dibandingkan di Indonesia," kata Robert.
Belanda disebut-sebut sebagai salah satu negara yang dengan jelas mendukung pengembangan energi alternatif, khususnya yang bersumber dari tanaman jarak pagar. Beberapa pihak menolak energi yang bersumber dari minyak kelapa sawit, karena pembudidayaannya monokultur dan kurang ramah lingkungan.
Kedelapan kandidat doktor, diantaranya berasal ITB, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), dan beberapa perguruan tinggi lainnya. Mereka secara khusus akan meneliti perbaikan kualitas minyak jarak dan berbagai produk turunannya, termasuk pemanfaatan limbah biji jarak. Menurut Robert, salah satu penelitian yang sedang dikembangkan adalah pembuatan plastik yang dapat terdegradasi secara biologi. Adapun bahan bakunya berasal dari tanaman jarak dan singkong.
Secara terpisah, Prof HJ Heeres dari Universitas Groningen yang mengikuti perkembangan ekspedisi minyak jarak murni mengatakan, energi alternatif yang bersumber dari jarak pagar sangat penting untuk masa depan. Karena itu, berbagai penelitian serius layak dikembangkan. "Ini momentum yang sangat bersejarah. Lima puluh tahun mendatang, anak cucu kita akan mengenang peristiwa ini," katanya ketika turut menyambut tim di Mataram, NTB. (GSA)


Sumber: KOMPAS, Jumat, 28 Juli 2006

Thursday, July 20, 2006

Presiden: Minyak Jarak Bisa Dikembangkan


JAKARTA, KOMPAS - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menerima rombongan Jatropha Expedition 2006 setelah menempuh perjalanan 3.000 kilometer dari Atambua di halaman parkir Gedung Bina Graha, Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (20/7). Keberhasilan ekspedisi ini membuktikan bahwa minyak jarak murni sebagai energi alternatif berpeluang besar dikembangkan di Indonesia.

Menurut Presiden, peluang besar pengembangan minyak jarak murni (pure jatropha oil) di Indonesia sejalan dengan kebijakan energi pemerintah untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar minyak tak terbarukan. Peluang besar Indonesia mengembangkan minyak jarak didukung dengan tersedianya lahan yang luas, budaya bertani, ketersediaan tenaga kerja, mesin, infrastruktur, dan adanya pasar baik dalam maupun luar negeri.

"Ini merupakan peluang besar yang tidak boleh kita sia-siakan. Oleh karena itu, sekarang dan ke depan ini, di samping yang sudah berkembang, pemerintah bersama semua kalangan ingin mengembangkan green energy besar-besaran untuk keamanan ketersediaan energi," ujarnya.
Kebijakan itu juga untuk membuka lapangan pekerjaan, mengurangi kemiskinan, menggerakkan ekonomi lokal, dan penghematan penggunaan devisa karena tidak lagi diperlukan untuk mencukupi kebutuhan energi tak terbarukan dari luar negeri.

Saat menerima Jatropha Expedition 2006, Presiden didampingi Menteri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman bersama sejumlah menteri dan Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB) Djoko Santoso.

Melihat besarnya potensi pengembangan minyak jarak murni, Presiden berjanji akan memberikan fasilitas, payung kebijakan, dan insentif tertentu agar potensi besar ini terwujud.
Perjalanan dari Atambua ke Jakarta secara keseluruhan berlangsung lancar. Berbagai medan dan kondisi jalan dilalui seperti rute pendakian di pegunungan, jalan sempit, berkelok, hingga padat lalu lintas. "Kondisi itu amat membantu peneliti mendapatkan serangkaian data keunggulan dan kelemahan minyak jarak murni. Ini akan ditindaklanjuti dengan pengujian berikut," ujar Pemimpin Redaksi National Geographic Indonesia sekaligus pemimpin ekspedisi Tantyo Bangun.

Evaluasi perjalanan
Setelah menempuh perjalanan sejauh sekitar 3.200 km dari Atambua, Denpasar, Bandung, hingga Jakarta, penggunaan minyak jarak murni tidak menemui hambatan berarti. Salah satu persoalan yang ditemui terjadi pada konverter tambahan mesin.

Ketika melintasi jalur perbukitan di wilayah Bajawa, Kabupaten Ngada, indikator stasioner terlihat naik turun, menunjukkan ada masalah suplai bahan bakar. Menurut teknisi yang juga perancang konverter, Prabowo Kertoleksono, temperatur udara 13 derajat Celsius menyebabkan mesin tak mendapat aliran air pendingin ke radiator. Padahal, konverter butuh energi cukup dari suplai air. Minyak jarak juga terhambat masuk ke mesin.

Persoalan mirip juga terjadi pada kendaraan dengan komposisi 50:50, yang sebelumnya tidak diduga. "Ini menunjukkan harus ada pengembangan konverter. Ini butuh waktu," katanya.
Persoalan lain yang ditemui dan dinilai sebagai anomali adalah uji emisi jelaga pada ketiga mobil uji. Hasil tes menunjukkan ketidakkonsistenan persentase kandungan jelaga. Penyelesaian persoalan masih akan digali melalui uji coba ratusan kilometer.

Namun, penemu sekaligus penggagas minyak jarak murni sebagai pengganti BBM, Prof Robert Manurung, menyatakan kepuasannya. Salah satu pengembangan yang sedang dikerjakan adalah menemukan formula minyak jarak yang lebih encer.

Untuk minyak jarak sendiri, di daerah kering seperti Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat, masyarakat setempat telah menanam tanaman jarak pagar dan sempat ditinjau rombongan. PT Bio Chem Prima Internasional, satu pendukung ekspedisi, berencana memasok bibit jarak pagar kualitas unggul untuk masyarakat agar bisa didapat tanaman tahan hama dan berbuah banyak untuk dijadikan minyak jarak murni. (INU/GSA)

Sumber: KOMPAS, Jumat 21 Juli 2006

Celaka Di Akhir Etape Dua

Selepas Bali, Tim bergerak dengan semangat baru setelah satu hari beristirahat dan menyaksikan Jatropha Festival di Sanur. Perjalanan lancar dan ditempuh dengan cepat melintasi Banyuwangi, Pasuruan, kemudian turun ke selatan ke arah Jombang Nganjuk dan Solo non stop.

Menjelang pagi iringan bergerak naik ke jalur Pantura (pantai utara), dengan mulai dari Semarang. Pimpinan ekspedisi telah mengingatkan bahwa di etape 2 secara kesulitan medan tidak akan sesulit etape pertama, namun tantanganya adalah kepadatan lalu lintas di jalanan pulau jawa.

Peringatan tersebut mendapat ujiannya ketika tim hendak memasuki kota Tegal. Sebuah becak dan sebuah sepeda motor melakukan gerakan yang tidak diduga oleh iringan sehingga menyebabkan tabrakan beruntun di antara iringan. Akibat kejadian itu, sebuah mobil pendukung tidak bisa melanjutkan perjalanan.

Hambatan tersebut menyebabkan tim makin waspada namun tetap melanjutkan target hari itu yaitu tiba di kota Bandung. Sebelumnya tim sempat mengunjungi perkebunan jarak pagar yang telah dirintis oleh Rajawali Nusantara 2 di Jati Tujuh, Cirebon seluas 740 hektar.

Lewat sedikit dari pukul 21.00 setelah menembus hujan deras menjelas Bandung, tim tiba dengan selamat di Institut Teknologi Bandung dan disambut oleh Rektor ITB Djoko Santoso.

Hari Kamis, tanggal 20 Juli, tim akan melanjutkan ke tujuan akhir diantar oleh Rektor ITB dan Menristek menuju Istana Negara yang rencananya akan diterima oleh Presiden Susilo Bambang Yoedhoyono pukul 16.00.

Diterima Presiden di Istana Negara

Usai menempuh perjalanan panjang, lebih dari 3.000 kilometer, rombongan Jatropha Expedition 2006 akhirnya tiba di Jakarta pada Kamis, 20/7. Rombongan yang mengawali perjalanan dari Atambua pada Rabu, 12/7 itu melaporkan hasil perjalanan dan pengujian kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara pada pukul 16:00 WIB.

Harapannya, hasil-hasil tersebut dapat dijadikan landasan bagi pengembangan minyak jarak murni (pure jatropha oil) sebagai bahan bakar kendaraan bermesin diesel. Saat diterima Presiden, rombongan didampingi Menteri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman dan Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB) Djoko Santoso.

Perjalanan dari Atambua menuju Istana secara keseluruhan berlangsung lancar. Berbagai tipe medan dan kondisi jalan telah berhasil dilalui rombongan. Dari rute pendakian di wilayah gunung, jalan yang sempit, berkelok dan rawan longsor hingga jalur dengan kondisi lalu lintas yang padat. Wilayah beriklim panas hingga dataran tinggi dengan suhu di bawah 15 derajat Celsius juga berhasil dilalui.

Menurut Tantyo Bangun, Pemimpin Redaksi National Geographic Indonesia sekaligus pemimpin ekspedisi, kondisi medan yang amat bervariasi tersebut tentu amat membantu para peneliti mendapatkan serangkaian data, baik keunggulan dan kelemahan, mengenai penggunaan minyak jarak murni. Data-data tersebut harus ditindak lajuti dengan pengujian berikutnya yang lebih panjang pada tahun mendatang.

“Kami membutuhkan dukungan untuk uji coba hingga 30.000 atau 300.000 kilometer,” sebut Dr Robert Manurung, Kepala Pusat Penelitian Bioteknologi ITB yang bersama National Geographic Indonesia menggagas ide pengujian penggunaan minyak jarak murni ini. Tekad ini semakin menguat terlebih setelah sejumlah pemerintah daerah dan masyarakat yang dilalui rombongan menyatakan dukungan dan harapan terhadap penggunaan minyak jarak murni.

Pada daerah kering seperti di Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat, masyarakat setempat telah melakukan penanaman tanaman jarak pagar. Di sela perjalanan, rombongan sempat melakukan peninjauan. PT Bio Chem Prima International, salah satu pendukung utama ekspedisi, berencana memasok bibit jarak pagar kualitas unggul kepada masyarakat, selama ini bibit yang ditanam berasal dari stek tanaman yang sudah ada. Diharapkan, bibit unggul tersebut mampu menghasilkan tanaman yang tahan hama dan berbuah banyak.

Ende Siapkan Lahan untuk Tanaman Jarak

Ende, Kompas - Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Ende Yohanes de Deo Dari mengatakan, saat ini telah ditetapkan dua kecamatan untuk pengembangan minyak jarak sebagai energi alternatif.

"Lahan yang dipersiapkan seluas empat hektar di Kecamatan Ndori dan 30 hektar di Maukaro. Untuk Kecamatan Ndori, penanaman pohon jarak ini merupakan bentuk diversifikasi dari tanaman jambu mete yang berada di lahan seluas 100 hektar," kata Yohanes, Senin (17/7) di Ende.

Pengembangan minyak jarak di dua kecamatan itu akan dibantu pemerintah daerah dan pusat. Kecamatan Ndori akan memperoleh bantuan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), sedangkan Kecamatan Maukaro akan mendapat dana dekonsentrasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Lahan cukup dan terbuka
Menurut Yohanes, penetapan tempat budidaya jarak pagar di Maukaro antara lain karena tersedia lahan yang cukup. Selain itu, untuk menghasilkan biji jarak yang baik, perlu lahan yang terbuka. Apabila tanaman jarak pagar (Jantropha curcas) ditanam di lahan tertutup, yang banyak terdapat pohon pelindung atau berada di bawah naungan pohon lain, hasilnya tak akan terlalu baik.

"Saat ini kami sedang melakukan pemetaan areal mana saja yang memenuhi syarat, dan juga mencari lahan-lahan tidur atau kosong," kata Yohanes. Dia juga mengatakan, tanaman jarak pagar sebenarnya banyak ditanam warga di Ende sehingga bukanlah tanaman yang asing bagi mereka. Namun, dari aspek budidaya, manfaat, maupun aspek ekonomi mungkin belum sepenuhnya dipahami masyarakat.

Selama ini tanaman jarak pagar umumnya dimanfaatkan oleh warga untuk pagar kebun atau difungsikan sebagai tanaman penjalar vanili. Bahkan tidak jarang tanaman jarak dimanfaatkan sebagai bahan campuran untuk merebus daging. "Berkaitan dengan program pengembangan energi alternatif ini, kami akan melakukan sosialisasi terlebih dahulu agar masyarakat benar-benar mengetahui besarnya potensi tanaman jarak pagar," ujar Yohanes.

Diharapkan, setelah itu antusias warga akan muncul dengan sendirinya. "Mereka mau melakukan budidaya karena tanaman tersebut bukanlah tanaman yang asing bagi mereka," kata Yohanes menambahkan.

Menurut rencana, tahun ini Kabupaten Ende akan mendapat bantuan skala kecil berupa dua alat pengolah biji jarak dari Badan Pengelolaan DAS NTT. Selain itu, akan dikucurkan pula dana sebesar Rp 600 juta dari dana dekonsentrasi, antara lain untuk perbaikan infrastruktur jalan di Maukaro seluas empat kilometer. Penyaluran dana tersebut melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Lahan dan Air Departemen Pertanian. (SEM)


Sumber: KOMPAS, Selasa 18 Juli 2006

Uji Lanjut Penggunaan Minyak Jarak Sedang Digagas


Sanur, Kompas - Meskipun uji coba penggunaan minyak jarak murni pada mesin kendaraan bermotor belum selesai, sudah muncul gagasan mengadakan uji lanjutan penggunaannya hingga ratusan kilometer. Uji coba yang digelar saat ini rencananya akan menempuh jarak 3.000 kilometer dari Atambua-Denpasar-Bandung-Jakarta, 12-20 Juli 2006.


"Tentunya kami membutuhkan dukungan untuk uji coba hingga 30.000 atau 300.000 kilometer. Uji coba saat ini memang masih harus dikembangkan lagi," kata Kepala Pusat Penelitian Bioteknologi Institut Teknologi Bandung (ITB) sekaligus pimpinan proyek minyak jarak pagar murni sebagai pengganti solar, Prof Robert Manurung, dalam sambutan Festival Jatropha 2006 di Bali, Senin (17/7).

Acara kemarin turut dihadiri Direktur Jenderal Industri Agro dan Kimia Departemen Perindustrian, Benny Wahyudi, Bupati Yapen Waropen Provinsi Papua Daud Sulaiman Betawi, dan Wakil Presiden Direktur Kelompok Kompas Gramedia (KKG) sekaligus Pemimpin Redaksi Harian Kompas Suryopratomo.

Diakui Robert, pihaknya mendengar adanya berbagai pihak yang mempertanyakan kesahihan uji coba penggunaan minyak jarak murni pada kendaraan bermotor. Hal itu dipicu jarak tempuh yang "hanya" 3.000 kilometer. Uji coba ekspedisi jatropha baru menempuh jarak sekitar 1.600 kilometer. Sejauh ini, seluruh mobil uji yang digunakan tidak mengalami gangguan berarti.

Pada festival kemarin, minyak jarak pagar murni juga digunakan sebagai energi penggerak mesin diesel 20 kVA. Selain itu, juga untuk menyalakan kompor minyak dan pelita.
Upaya-upaya mengembangkan energi alternatif sebagai pengganti energi fosil, hingga kini juga mulai memperoleh sambutan pemerintah. Dalam sambutan tertulisnya, Menteri Perindustrian Fahmi Idris mengatakan, tahun 2006 ini akan dibangun empat pabrik biodiesel yang akan disusul empat pabrik lagi pada tahun berikutnya.

Seperti diungkapkan Suryopratomo, upaya-upaya penemuan energi alternatif patut terus didukung dan dikembangkan. Hal ini telah dilakukan banyak negara di dunia seiring semakin langkanya energi fosil. Contoh paling relevan adalah melambungnya harga minyak dunia seiring serangan Israel ke Palestina. Dengan adanya energi alternatif, maka kejadian-kejadian serupa tidak akan menyengsarakan banyak warga di negara-negara berkembang.

Kepada Kompas, Bupati Yapen Waropen Daud Sulaiman mengatakan bahwa daerahnya telah membuka 30 hektar lahan untuk ditanami jarak pagar (Jatropha curcas). Total lahan yang akan dibuka mencapai 500 hektar. "Dua juta hektar akan ditanami jarak pagar pada delapan kabupaten. Minggu depan akan mulai pembibitan," kata Daud.

Secara khusus, kampanye penanaman jarak pagar akan diperluas pada Yapen Techno Agroplitan, September 2006 mendatang. Selain menanam jarak, juga akan dibangun pabrik pengolahan sebagai bahan bakar minyak. "Kami berharap pengembangan jarak pagar ini akan turut menyejahterakan petani di Yapen yang masih terbelakang," kata Daud. (GSA)


Sumber: KOMPAS, Rabu, 19 Juli 2006

Tuesday, July 18, 2006

Serba Jarak di Festival Jarak

Puluhan anak-anak beriringan ke tengah lapangan rumpu seluas 250 mter persegi. Di tangan mereka memegang erat sebeliah bambu berujungkan lentera minyak jarak murni. Aksi anak-anak yang memakai pakaian adat Bali itu menarik perhatian para tamu dan undangan Festival Jatropha 2006, di kawasan Sanur, Bali, Senin malam, 17/7. Aksi parade lampion yang diisi dengan cahaya bersumber minyak jarak murni menambah semarak suasana.

Dalam kesempatan sama, Dirjen Industri Agro dan Kimia Departemen Perindustrian Benny Wahyudi secara simbolis menyalakan generator Olympian GEP – 22 PT Trakindo Utama yang telah diisi dengan bahan bakar minyak jarak murni. Generator mampu menghasilkan energi listrik sebesar 20 kVA. Nilai ini setara menerangi 18 rumah dan sekitar 400 lampu. Pada Festival Jatropha, PT Trakindo Utama juga memboyong mesin Caterpillar D3456TA 50 Hz, 364 kW/455 kVA, 400 V.

Sejak awal ekspedisi digelar, , PT. Trakindo Utama, salah satu pendukung Jatropha Expedition 2006, menyatakan, dukungan terhadap pemakaian bahan bakar nabati, khususnya minyak jarak murni. Sebab, pemakaian bahan bakar nabati tentu akan dapat menekan biaya operasi. “Selain itu, kami berkomitmen untuk membantu Pemerintah Indonesia untuk mengurangi pemakaian bahan bakar fosil,” ujar Steve Kilgallon, General Manager for Power System Division PT Trakindo Utama.

PT Wartsila Indonesia juga menyambut positif berbagai contoh pemakaian minyak jarak dalam festival ini. Perusahaan pembuat dan penyedia pembangkit energi (power plants) yang berkantor pusat di Finlandia ini berharap minyak jarak murni dapat segera digunakan pada mesin-mesin yang mereka yang pakai. ”Tentu aplikasi itu dilakukan setelah melalui serangkaian pengujian seperti yang dilakukan dalam Jatropha Expedition 2006,” ujar Tengku Ruswir, Manajer Penjualan PT Wartsila Indonesia, yang juga berpatisipasi dalam Jatropha Expedition 2006. Di Findlandia, Wartsila telah menggunakan Crude Palm Oil (CPO) sebagai kombinasi bahan bakar mesin diesel sejak 2001.

Dalam festival tersebut, para penari tardisional Bali juga menyajikan tarian api dan bola api yang menggunakan minyak jarak murni sebagai bahan bakar. Sebelumnya, para peneliti Puslit Bioteknologi ITB memeragakan penggunaan minyak jarak murni sebagai bahan bakar kompor tekan. Untuk kebutuhan tersebut, kita dapat mencampur minyak jarak dengan minyak tanah dengan perbandingan 3 : 1. Malam itu, kawasan Sanur suguhi demontrasi potensi tanaman jarak pagar.

Ende Siapkan Lahan untuk Tanaman Jarak

Ende, Kompas - Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Ende Yohanes de Deo Dari mengatakan, saat ini telah ditetapkan dua kecamatan untuk pengembangan minyak jarak sebagai energi alternatif.

"Lahan yang dipersiapkan seluas empat hektar di Kecamatan Ndori dan 30 hektar di Maukaro. Untuk Kecamatan Ndori, penanaman pohon jarak ini merupakan bentuk diversifikasi dari tanaman jambu mete yang berada di lahan seluas 100 hektar," kata Yohanes, Senin (17/7) di Ende.

Pengembangan minyak jarak di dua kecamatan itu akan dibantu pemerintah daerah dan pusat. Kecamatan Ndori akan memperoleh bantuan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), sedangkan Kecamatan Maukaro akan mendapat dana dekonsentrasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Lahan cukup dan terbuka
Menurut Yohanes, penetapan tempat budidaya jarak pagar di Maukaro antara lain karena tersedia lahan yang cukup. Selain itu, untuk menghasilkan biji jarak yang baik, perlu lahan yang terbuka. Apabila tanaman jarak pagar (Jantropha curcas) ditanam di lahan tertutup, yang banyak terdapat pohon pelindung atau berada di bawah naungan pohon lain, hasilnya tak akan terlalu baik.

"Saat ini kami sedang melakukan pemetaan areal mana saja yang memenuhi syarat, dan juga mencari lahan-lahan tidur atau kosong," kata Yohanes. Dia juga mengatakan, tanaman jarak pagar sebenarnya banyak ditanam warga di Ende sehingga bukanlah tanaman yang asing bagi mereka. Namun, dari aspek budidaya, manfaat, maupun aspek ekonomi mungkin belum sepenuhnya dipahami masyarakat.

Selama ini tanaman jarak pagar umumnya dimanfaatkan oleh warga untuk pagar kebun atau difungsikan sebagai tanaman penjalar vanili. Bahkan tidak jarang tanaman jarak dimanfaatkan sebagai bahan campuran untuk merebus daging.

"Berkaitan dengan program pengembangan energi alternatif ini, kami akan melakukan sosialisasi terlebih dahulu agar masyarakat benar-benar mengetahui besarnya potensi tanaman jarak pagar," ujar Yohanes. Diharapkan, setelah itu antusias warga akan muncul dengan sendirinya. "Mereka mau melakukan budidaya karena tanaman tersebut bukanlah tanaman yang asing bagi mereka," kata Yohanes menambahkan.

Menurut rencana, tahun ini Kabupaten Ende akan mendapat bantuan skala kecil berupa dua alat pengolah biji jarak dari Badan Pengelolaan DAS NTT. Selain itu, akan dikucurkan pula dana sebesar Rp 600 juta dari dana dekonsentrasi, antara lain untuk perbaikan infrastruktur jalan di Maukaro seluas empat kilometer. Penyaluran dana tersebut melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Lahan dan Air Departemen Pertanian. (SEM)


Sumber: Harian KOMPAS, Selasa, 18 Juli 2006

Free Site Counters
Free Site Counters